BAB 15 (Bab Terakhir)
Rumah yang Tak Pernah Hilang
Jakarta, Juli 2011
Musim kemarau menyelimuti Jakarta ketika pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi akhirnya tiba.
Sejak pagi, Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio sudah saling mengirim pesan.
Tak ada yang berani membuka hasilnya lebih dulu.
Mereka sepakat bertemu di taman kecil yang berada di samping SMP dan SMA Prestigia tempat yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjalanan mereka.
Tempat itu kini terasa berbeda.
Pohon ketapang yang dahulu masih kecil kini tumbuh semakin rindang.
Bangku kayunya masih sama.
Seolah tak pernah berubah.
Ezra datang lebih dulu.
Di tangannya tergenggam amplop berisi hasil seleksi.
Tak lama kemudian, Elfaraz berjalan menghampiri.
"Kamu sudah buka?"
Ezra menggeleng.
"Belum, kamu sendiri?"
"Sama." Jawab Elfaraz
Mereka saling tersenyum gugup.
"Bareng?" Ajak Elfaraz
"Bareng." Ezra setuju
Mereka menghitung pelan.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga."
Amplop dibuka hampir bersamaan.
Beberapa detik...
Tak ada suara.
Lalu perlahan senyum muncul di wajah Ezra.
"Yes Aku..." "...diterima."
Elfaraz ikut mengangkat pandangannya dan tersenyum ke arah Ezra.
"Aku juga."
Ezra tertawa lega.
"Jurusan Musik."
"Manajemen."
Mereka saling menatap.
"Universitas Nusantara."
"Universitas Nusantara."
Keduanya spontan tertawa.
Janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu akhirnya menjadi kenyataan.
Mereka akan kembali berjalan di kampus yang sama.
Beberapa minggu kemudian.
Hari pertama menjadi mahasiswa.
Gerbang Universitas Nusantara dipenuhi ribuan mahasiswa baru.
Sebagian datang bersama orang tua.
Sebagian tampak gugup.
Sebagian lagi sibuk mencari gedung fakultas.