Blurb
"Sakit itu merepotkan", katanya. Ketika itu, aku benar-benar tak mau menjadi orang yang lemah di hadapan siapa pun. Menjadi manusia yang pura-pura kuat tak semudah yang aku bayangkan. Bahkan, ketika tubuhku tak mampu lagi berbohong, mereka menganggap itu lelucon belaka. Lucu, ya? Namun, di kala semesta ikut mengasihani ku, aku dapat merasakan betapa indahnya hidup yang seharusnya kumiliki. Mungkin, Tuhan sengaja memperkuat hayalan ku yang tak pernah menjadi kenyataan itu. Pada akhirnya, itu menjadi sebuah pelarian di saat aku lelah pada takdir yang mendesak ku.