Ketika tubuhku tak mampu berbohong

Umaira Uzma Hanifa
Chapter #1

Bagian pertama: Daffodil kuning di jalan

Matahari membangunkan ku dari tidur. Demam beberapa hari yang lalu, masih membuatku susah untuk bangun.

Namaku Dela May. Beberapa orang di sekitarku pernah mengejek namaku. Karena, mereka sulit mengucapkannya. Aneh, mereka yang tidak bisa, kok aku yang disalahkan? Salahkan saja kedua orang tuaku yang memberi nama. Aku tak pernah meminta lahir dengan nama seperti itu. Tahun ini, aku telah naik kelas. Artinya, aku akan belajar lebih giat untuk mata pelajaran yang lebih susah di kelas empat ini.

Entah mengapa, rasanya sulit memahami kata Bu Guru di kelas. Mungkin, karena aku memang selalu sulit memahami hal yang sepertinya lebih penting, di banding sekedar pelajaran. Tapi, aku tidak tahu itu apa. Ketika Ayah membentakku saat memecahkan piring semalam, aku goyah. Tak kuasa menahan sakit kepala yang sudah menggangguku sejak tiga hari yang lalu. Bahkan, aku tak tahu apa yang mengganjal itu, ketika Ayah tak sekalipun mempedulikan beling yang menancap betisku. Sakit, tahu! Tapi, aku tidak berani bilang. Aku mau bilang, tapi mulutku sepertinya punya resleting tersembunyi.

Terkadang, aku sebal dengan diriku yang tidak berani ini. Masa hal sepele saja tidak bisa bicara? Aku ini tidak bisu! Tapi, mulutku selalu saja melakukannya. Ah, sudahlah. Setidaknya aku lebih bersemangat meraih peringkat tiga besar lagi di kelas empat. Sejak kelas satu SD, aku selalu dapat peringkat. Entah 1,2, atau 3.

Lihat selengkapnya