Ketika tubuhku tak mampu berbohong

Umaira Uzma Hanifa
Chapter #2

Bagian kedua: Merpati Putih

"Bagaimana hari ini? Kamu fokus belajar, kan?" Ibu menanyakan ku sembari menyetir mobil kami pulang ke rumah. Sepertinya, aku tahu apa yang baru saja terjadi. Ia mendapat informasi dari guruku kalau aku melamun terus hari ini. Hawa tegang mulai memenuhi seisi mobilku.

Mataku tak berani menatap wajah masamnya itu. Aku membeku, seolah-olah, hari ini aku melamun karena malas. Padahal, ia tak pernah mempedulikan ku ketika sakit. Mentok-mentok, ia hanya memberiku uang untuk membeli obat-obatan di warung. Katanya, dia dulu tidak pernah mengeluh kalau sakit. Ia menurut pada ayah ibunya.

Firasatku buruk tentang ini. Maksudku, saat kelas 3, aku juga pernah begini. Dan aku takut itu terjadi lagi...

"Dela May! Kemari kamu!" Ibu meneriaki ku dari ruang tamu, nada bicaranya seolah ingin melahap putri tunggalnya ini hidup-hidup. "Bisa-bisa kamu bermain-main di sekolah! Pakai segala pingsan, pula! Emang kamu tuh ada masalah apa sih? Cape? Bosan? Jangan sok lelah, deh. Kamu tidak tahu ya? Dulu, Ibu disuruh belanja ke pasar setiap pagi buta, membelah kesibukan pasar. Ibu sakit, Ibu tidak pernah mengeluh. Kuat kuat saja, toh?" Menusuk sekali, ya? Kok bisa-bisanya, gadis kecil kelas 4 SD, ia suruh menahan lelah. Menahan sakit di seluruh penjuru tubuh, menahan sakit kepala, beling piring yang menancap kakinya.

Lihat selengkapnya