Di pintu rumah Nenek Sulastri ada lima kata yang ditulis tangan, tintanya nyaris pudar: Ketuk dua kali kalau berantakan.
Butuh enam puluh hari, empat orang asing, satu developer yang terlalu sopan, dan satu kebohongan yang ternyata berumur lebih panjang dariku untuk membuatku mengerti bahwa kalimat itu bukan ditulis untuk tukang paket. Kalimat itu ditulis untuk orang sepertiku. Tapi hari pertama aku membacanya, yang kupikirkan cuma satu: berapa harga tanah ini per meter.
Ada dua jenis warisan di dunia ini: yang bikin kamu berhenti kerja, dan yang bikin kamu nambah kerjaan. Punyaku jelas jenis kedua.
Tiga minggu lalu, hidupku sudah cukup rumit tanpa tambahan sebuah rumah. Aku baru pindah dari kos ketiga dalam dua tahun, masih nyicil HP yang layarnya retak di pojok kiri, dan baru saja memutuskan bahwa cinta adalah kemewahan yang tidak masuk anggaran bulananku. Lalu datang telepon dari notaris yang menyebut namaku sebagai ahli waris tunggal. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mewarisi sesuatu yang lebih besar dari rasa bersalah. Anehnya, aku bahkan tidak terlalu dekat dengan Nenek Sulastri. Kami bertemu beberapa kali waktu aku kecil, lalu hidup mengambil alih seperti biasanya: pindah kota, ganti nomor, lupa cara pulang. Jadi ketika rumah itu jatuh ke tanganku, reaksiku bukan haru. Reaksiku adalah kalkulator.
Peninggalan Nenek Sulastri adalah rumah tua dua lantai di gang sempit kawasan kota lama Surabaya, lingkungan yang terlalu panas di siang hari dan terlalu ramai di sore hari untuk bisa benar-benar merasa sendirian. Aku sampai di sana jam dua siang, di jam ketika aspal seperti ingin mengeluh, dengan satu ransel, satu map berisi sertifikat, dan satu rencana: jual, beres, lanjut hidup.
Rumah itu tidak mewah, cuma lebih besar dari yang seharusnya dimiliki satu orang tua yang tinggal sendiri. Terasnya muat empat kursi plastik dan satu tanaman dalam pot yang aku sendiri tidak tahu jenisnya. Daunnya lebar, agak berdebu, tapi hidup, seolah ada yang rutin menyiramnya sampai kemarin. Aku berdiri di depan pintu dan langsung melakukan yang paling kubisa: menghitung. Lokasi strategis, dekat jalan besar, tanah lumayan. Di kepalaku, angka-angka berbaris rapi seperti antrean yang sopan.
Begitulah caraku menyayangi sesuatu: dengan mengubahnya jadi nilai jual. Lebih aman begitu. Angka tidak pernah mengkhianatimu — dia cuma naik atau turun, dan dua-duanya bisa kau siapkan. Tapi gang ini menolak diajak berhitung. Seorang penjual rujak mendorong gerobaknya pelan, mengangguk padaku seolah sudah lama kenal. Dua bocah mengejar bola plastik yang separuh kempes. Dari satu rumah terdengar radio menyiarkan lagu lama, dari rumah lain tercium bawang ditumis. Semuanya terlalu hidup, terlalu hangat, untuk sebuah tempat yang ingin kutinggalkan secepat-cepatnya.
Lalu aku melihat tempelan itu.
Di daun pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, ada kertas yang lebih tua dari niat baikku, hurufnya ditulis tangan dengan spidol yang tintanya mulai pudar:
Aku membacanya dua kali dan menyimpulkan: ini pasti aturan buat tukang paket. Mungkin biar nenek tahu bedanya orang nganterin galon sama orang nawarin panci.
Kunci yang dikasih notaris seret di lubangnya. Aku harus memutarnya sambil sedikit mengangkat gagang, gerakan yang entah bagaimana langsung kutahu tanpa diajari, seperti tubuhku ingat sesuatu yang otakku tidak. Pintu terbuka dengan bunyi panjang yang aneh bukan decit, lebih seperti orang tua berdehem sebelum bicara. Ehm. Bulu kudukku berdiri sebentar, bukan karena takut, tapi karena bunyi itu terasa familiar dengan cara yang tidak bisa kujelaskan. Seperti pernah kudengar di mimpi yang setiap kali bangun langsung lupa.
Kuusir perasaan itu. Aku ke sini untuk jualan properti, bukan untuk merenung.