Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #2

Orang yang Tidak Diusir karena Keburu Berguna

Aku bukan orang pagi. Tapi suara dentang logam dari dapur membuatku jadi orang pagi secara paksa.

Kusambar gagang sapu sebagai senjata terbaik yang tersedia dan mengendap ke dapur dengan jantung di tenggorokan, sudah menyiapkan beberapa skenario di kepala. Maling, tikus sebesar kucing, atau arwah Nenek Sulastri yang protes karena rumahnya mau kujual.

Aku bukan orang yang berani. Aku cuma orang yang tidak punya pilihan lain selain berpura-pura berani. Keahlian yang kupelajari dari bertahun-tahun tinggal sendiri, di mana tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu kalau kau menjerit, jadi lebih baik tidak menjerit dan menghemat tenaga untuk berlari. Yang kutemukan justru lebih membingungkan dari ketiganya.

Seorang laki-laki seusiaku sedang jongkok di depan kompor, memukul sisi kirinya dua kali dengan telapak tangan, santai seperti sedang menepuk pundak teman lama. Kompor yang sejak semalam tidak mau menyala langsung menyala biru.

Aku berdiri di ambang dapur dengan sapu teracung, merasa konyol seperti orang yang membawa payung ke dalam laut. Semalam aku berjuang dengan kompor itu sampai menyerah dan makan roti kering di kegelapan. Laki-laki ini menaklukkannya dalam dua tepukan, seakan dia dan rumah ini punya bahasa rahasia yang tidak diajarkan kepadaku, sang pemilik sah. Dia bahkan tidak menengok waktu bilang, "Kompornya cuma butuh dikasih tahu siapa yang nyalain. Aku Banyu."

"Aku—" Aku mengangkat sapu lebih tinggi. "Kamu siapa dan ngapain di dapurku?"

"Nyari air." Dia berdiri, menepuk celananya. Tinggi, agak kurus, rambut berantakan dengan cara yang sepertinya tidak dia sengaja dan tidak dia pedulikan. Ada ransel lusuh di sudut, jaket yang dilipat jadi bantal, dan sebotol air mineral yang tinggal separuh. Perlengkapan orang yang terbiasa tidur di mana saja hidup memutuskan untuk berhenti sebentar. Aku mengenali tipe itu. Aku pernah jadi tipe itu. "Semalam aku nyasar. Maps-ku ngarahin ke gang ini terus baterai HP mati. Pintu rumah ini gak dikunci—"

"Aku ngunci."

"—ya, mungkin kebuka lagi. Pintunya emang gitu." Dia bilang itu seolah aku yang aneh karena belum kenal kepribadian pintu sendiri. "Tapi aku ngetuk dulu, lho. Dua kali — sesuai yang ditulis di pintu." Dia bilang itu enteng saja, sementara di kepalaku sesuatu jatuh ke tempatnya dengan bunyi pelan. Jadi ketukan yang semalam kukira tikus itu bukan tikus. Bukan rumah tua, bukan angin. Cuma manusia yang membaca papan di daun pintu lalu menurutinya, persis seperti yang diminta nenek pada siapa saja yang berdiri di luar sana dalam keadaan berantakan. "Aku tidur di teras. Tapi engselmu yang pintu samping rusak, jadi tadi subuh aku—" Dia menunjuk pintu samping dengan dagu. Engsel yang kemarin miring sekarang lurus. Tertutup rapi. Tidak menggantung lagi seperti rahang yang lelah.

Aku menatap engsel itu. Lalu menatap dia. Lalu menatap engsel lagi.

Ini momen di mana, seharusnya, aku mengusirnya. Logikanya jelas. Orang asing, masuk tanpa izin, tidur di terasku. Setiap sel di tubuhku yang sudah hidup dua puluh enam tahun di kota besar berteriak usir, panggil RT, jangan ramah sama orang yang bisa benerin engsel sebelum kamu sempat sarapan.

Tapi mulutku malah berkata, "Kamu pakai obeng siapa?"

Lihat selengkapnya