Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #3

Buku Tulis Tua

Banyu datang "besok" itu, lalu "besok" lagi, lalu satu "besok" yang entah bagaimana berubah jadi dia punya gelas teh sendiri di rak. Gelas yang dia klaim "kebetulan paling pas di tangan". Aku belum sempat memikirkan bagaimana cara mengusirnya tanpa kehilangan tukang engsel gratis, ketika masalahku justru bertambah dari arah yang tidak kuduga.

Masalah itu bernama Tika, dan dia datang sambil merekam.

Aku tahu tipenya bahkan sebelum dia menurunkan kamera. Suaranya naik setengah oktaf untuk lensa, gerak tangannya membesar, ada jeda-jeda kecil yang sengaja ditinggalkan untuk transisi nanti. Aku menghabiskan delapan jam sehari di balik layar, menonton orang menjual barang sambil menjual versi diri mereka yang paling layak ditonton. Aku kenal pertunjukan itu. Aku cuma tidak menyangka pertunjukan itu suatu hari akan mengetuk pintuku.

"Halo gengs, jadi hari ini aku lagi di rumah tua aesthetic banget di kota lama Surabaya," katanya ke kamera ponsel yang dipasang di tripod kecil, sebelum aku sempat membuka pintu lebih lebar dari sejengkal. "Konon katanya rumah ini punya cerita—"

"Rumah ini punya pemilik," potongku. "Yang lagi gak mau masuk konten."

Tika menurunkan ponselnya, dan tanpa kamera, wajahnya berubah. Lebih muda, lebih lelah, seperti baterai yang menyala terang hanya saat ada yang menonton. Itu wajah yang jauh lebih jujur daripada apa pun yang akan dia unggah hari itu. Tapi dia buru-buru menyalakan dirinya lagi, seperti orang yang malu ketahuan tanpa riasan. "Maaf, Mbak. Aku content creator. Lagi nyari lokasi buat seri 'rumah-rumah berhantu'—"

"Gak ada hantu di sini." Cuma bunyi pintu, suara sendok di mimpiku, dan satu laki-laki yang gak bisa diusir.

"Ya udah 'rumah-rumah punya rahasia' juga boleh," katanya cepat, sudah memutar ulang konsep di kepalanya. "Aku Tika. Lima belas menit aja, Mbak. Aku—"

"Gak."

Aku menutup pintu. Ehm.

Lima menit kemudian, ketukan lagi. Dua kali. Selalu dua kali seakan setiap orang yang berhenti di pintu ini sudah tahu jumlahnya tanpa perlu kuberi tahu.

"Mbak, maaf, tasku ketinggalan di teras."

Memang ketinggalan. Aku memberikannya lewat celah pintu seperti orang menyerahkan tebusan.

Lihat selengkapnya