Ada penemuan-penemuan yang mengubah hidup. Newton dan apel. Archimedes dan bak mandi. Aku dan satu mahasiswa yang tidur di terasku dengan laptop menclok di atas perutnya seperti kucing yang kemahalan.
Beberapa hari setelah Tika mulai rutin datang tiap sore dengan alasan numpang ngedit, aku sudah mulai terbiasa bangun dan menemukan manusia baru di properti yang seharusnya kujual dalam keadaan kosong. Itu bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi entah sejak kapan, bagian dalam kepalaku yang biasanya langsung menghitung kerugian mulai menghitung hal lain. Cukup tidak nasi semalam kalau dipanaskan untuk satu orang lagi.
Sebenarnya bukan aku yang menemukan. Banyu yang hampir menginjaknya subuh-subuh waktu keluar mau — entahlah, aku berhenti bertanya kenapa Banyu ada di rumahku setiap pagi seperti embun. Aku cuma dengar teriakan kecil, lalu suara laptop yang nyaris jatuh, lalu suara orang asing yang lebih panik menyelamatkan laptopnya daripada dirinya sendiri.
Waktu aku keluar dengan sapu — yang sekarang resmi jadi senjata sambutan tamu di rumah ini — anak itu sudah duduk bersila, memeluk laptopnya, menatapku dengan mata merah orang yang tiga malam tidak tidur benar.
"Maaf, Mbak," katanya. "Saya kira ini kos yang buka dua puluh empat jam."
"Kos."
"Kata Bapak yang sebelah. Yang sarungan."
Aku menutup mata sebentar. Pak Darto. Tentu saja. Aku mulai curiga lelaki itu menganggap rumahku semacam fasilitas umum yang dia kelola secara sukarela.
Belakangan aku tahu Pak Darto memang punya peta tak tertulis di kepalanya: siapa yang butuh tempat, siapa yang butuh kerjaan, siapa yang anaknya bisa dititipi les. Rumah nenek selalu jadi titik pertama di peta itu. Dia tidak pernah bertanya apakah aku setuju jadi titik itu. Di Surabaya, rupanya, kebaikan diwariskan seperti utang: kau menerimanya begitu saja dari orang sebelummu, lengkap dengan bunga dan daftar penerimanya. Aku ingin marah pada sistem itu. Tapi susah marah pada lelaki tua yang membawakanmu rawon buatan istrinya — istri yang, dari caranya menelan kata 'dhewe' tempo hari, kuduga sudah lama tidak ada.
"Ini bukan kos," kataku. "Ini rumah orang."
"Rumah orang yang mana, Mbak?" tanyanya polos, menengok ke dalam, ke arah Banyu yang sedang menjemur kain pel seolah dia pegawai tetap di sini. Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu menutupnya lagi. Itu pertanyaan yang lebih sulit dari yang dia kira. Rumah orang yang mana, memang? Secara hukum, rumahku. Secara perasaan, akulah yang paling terasa seperti tamu di antara semua orang di sini.