Kalau Juno datang lewat kesalahan informasi, Rara datang lewat kesalahan yang lebih besar lagi: keyakinan penuh Pak Darto.
Hampir seminggu setelah Juno datang, suatu sore Pak Darto muncul di pintu — yang sekarang berbunyi ehm untuknya seperti untuk anggota keluarga — sambil menggiring seorang perempuan muda berkoper. Rapi. Terlalu rapi. Jenis rapi yang justru bikin sedih, seperti orang yang menyetrika bajunya sebelum kabur supaya setidaknya kelihatan baik-baik saja waktu hancur. Aku tahu rapi seperti itu. Kau tidak bisa mengatur perasaanmu, tidak bisa mengatur orang-orang yang mengecewakanmu, jadi kau mengatur lipatan bajumu karena setidaknya itu masih menurut.
"Iki, Mbak, namanya Rara," kata Pak Darto, bangga seolah membawa hadiah. "Tak temokno nang trotoar ujung gang. Bingung katanya. Tak terno mrene, lha kan iki penginapan." Ini, kutemukan di trotoar ujung gang. Bingung katanya. Kuantar ke sini, kan ini penginapan.
"Pak," kataku, sabar yang sudah menipis jadi setipis pulsa di akhir bulan, "ini bukan penginapan."
"Lha sing wingi-wingi piye?" Lha yang kemarin-kemarin gimana? Dia menunjuk ke dalam, ke arah Banyu dan Juno yang melongok dari ruang tamu seperti dua kepala yang muncul dari balik tembok. Aku tidak punya jawaban yang bisa kupakai untuk membela diri di pengadilan logika Pak Darto.
Perempuan itu — Rara — menunduk. "Maaf. Maaf, saya nggak bermaksud ngerepotin, maaf banget." Tiga "maaf" dalam satu napas. Aku belum pernah dengar orang minta maaf sebanyak itu untuk dosa yang belum dia lakukan.
Tiap "maaf"-nya keluar otomatis, seperti refleks, seperti orang yang sejak kecil diajari bahwa keberadaannya sendiri adalah sesuatu yang perlu dimintakan ampun. Mendengarnya membuat dadaku sesak dengan cara yang tidak nyaman, karena aku tidak yakin aku sedang kasihan padanya atau sedang menatap versi diriku yang lebih sopan.
"Saya cuma butuh satu malam," katanya pelan, suaranya hampir tidak ada. "Besok saya pergi."
Dan di situ aku tertohok oleh sesuatu yang tidak kuduga. Karena aku tahu kalimat itu. Aku pernah mengucapkannya — ke kos pertama, ke pekerjaan yang kubenci, ke kota ini. Cuma sementara. Besok aku pergi. Aku spesialis kalimat itu. Dan aku tahu persis seberapa sering "besok" itu tidak pernah datang.