Di Surabaya, kabar berjalan lebih cepat dari ojek online di jam kosong. Dan sumber kabar nomor satu di gang ini, sudah bisa ditebak, adalah orang yang sama yang mengirimi rumahku penghuni gratisan. Pak Darto.
Masalahnya, Pak Darto punya dua mode. Mode satu, mengantar orang asing ke rumahku. Mode dua, mencurigai rumahku karena penuh orang asing. Dia tidak melihat ada yang ironis dari hal ini. Aku tidak punya energi menjelaskannya.
Belakangan aku mengerti bahwa kedua mode itu sebenarnya satu: dua-duanya cara Pak Darto memastikan dia masih punya alasan untuk datang. Mengantar orang, atau mencurigai orang, yang penting ada urusan yang membuatnya tidak harus pulang ke rumahnya yang terlalu sepi lebih cepat.
Semua dimulai waktu Pak Darto lapor ke Bu Nining — tetangga yang punya warung dan, lebih penting, punya grup WhatsApp RT yang lebih aktif dari grup keluargaku sendiri. Dari Bu Nining, kabar menyebar dan berevolusi seperti virus yang menyenangkan diri sendiri. Pagi: "rumah Bu Sulastri rame." Siang: "kos ilegal." Sore: "panti tanpa izin." Malam, dan ini puncaknya, satu pesan dengan keyakinan penuh: "Waspada, kemungkinan sekte atau markas pinjol."
Aku dipanggil ke "pertemuan kecil" di rumah Bu Nining yang tidak resmi tapi diatur seperti sidang. Ada yang memimpin, ada yang mencatat, ada teh dan gorengan yang membuat semuanya terasa lebih mengancam karena sopan. Tidak ada yang lebih menakutkan dari sekelompok orang yang menyiapkan camilan sebelum menginterogasimu. Senyumnya ramah, tehnya manis, tapi pertanyaannya tajam — dan kau tidak bisa marah, karena, ya, mereka sudah repot-repot menggoreng tempe.
"Jadi sebenarnya rumah itu untuk apa, Mbak?" tanya seorang bapak yang kuduga ketua RT.
Dan di sinilah aku menyadari masalah sesungguhnya: aku sendiri tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskan rumah yang tidak kupahami. "Itu… rumah warisan," kataku, lemah. "Yang kebetulan… ada orangnya."
"Kebetulan empat orang?"
Bu Nining menyodorkan piring gorengan lebih dekat, gerakan yang entah ramah entah taktik. "Anu lho, Mbak," katanya, "bukan kami nggak suka rame. Tapi rame kok ya nggak jelas juntrungannya." Seorang ibu di pojok menimpali bahwa dia pernah melihat 'laki-laki kurus' — Banyu — naik ke atap malam-malam, dan itu mencurigakan. Aku ingin menjelaskan bahwa orang itu naik atap untuk membersihkan talang yang kelak menyelamatkan rumah dari bocor, tapi di forum seperti ini fakta selalu kalah cepat dari firasat. Ketua RT mengetuk meja dengan sendok teh, gaya yang kuduga dia tiru dari sidang di televisi. "Intinya," katanya, "kami cuma mau tahu rumah itu aman. Banyak anak kecil di gang ini." Dan di situ aku diam, karena kali ini pertanyaan mereka tidak terasa seperti gangguan, melainkan seperti kekhawatiran yang dipakaikan baju yang salah.