Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #7

Dara Membuat Aturan

Ada titik di mana kamu berhenti melawan arus, bukan karena menyerah, tapi karena sadar arusnya tidak akan berhenti hanya karena kamu cebok-cebok di tepi. Aku sampai di titik itu pada minggu keempat, dengan empat penghuni, satu tetangga semi-permanen, dan nol rencana yang masih utuh.

Mereka tidak pernah datang berbarengan. Justru itu tipu dayanya. Satu per satu, berjarak hari bahkan minggu, masing-masing dengan alasan yang terlalu masuk akal untuk ditolak saat itu, nyasar, kehujanan, butuh tempat ngedit, diantar Pak Darto. Tidak pernah ada satu momen besar yang bisa kutunjuk sambil bilang, 'nah, di sinilah semuanya berubah.' Rumah ini tidak diserbu. Rumah ini terisi pelan-pelan, seperti gelas di bawah keran yang menetes, dan baru kausadari penuh justru saat sudah mulai tumpah.

Kalau mereka tidak mau pergi, setidaknya mereka harus teratur. Itu kompromi yang bisa kuterima. Aku bukan orang yang menerima orang; aku orang yang mengelola sistem.

Aku tahu dari mana keyakinan itu datang. Ibuku dulu menerima terlalu banyak orang—termasuk laki-laki yang janjinya selalu lebih besar dari kemampuannya, dan tiap kali salah satu dari mereka pergi, ibuku ikut pergi sedikit demi sedikit, sampai yang tersisa cuma perempuan yang menatap pintu lebih sering daripada menatapku. Aku bersumpah tidak akan jadi pintu yang menunggu. Lebih baik jadi tembok. Tembok tidak menunggu siapa-siapa, tembok tidak kecewa. Tapi rumah nenek, dengan caranya yang keras kepala, sedang mengajariku bahwa tembok dan pintu kadang terbuat dari kayu yang sama, cuma beda cara memperlakukan engselnya. Aku pikir papan aturan itu sebuah sistem. Aku belum sadar aku sedang diam-diam membuat pintu, bukan pagar. Maka aku melakukan satu-satunya hal yang kubisa untuk merasa kembali memegang kendali: aku membuat aturan.

Tempelan kertasku di pintu tempo hari ternyata cuma pemanasan. Kubeli papan kayu di toko dekat pasar, kugantung di ruang tamu, dan kutulis dengan spidol hitam, rapi, seperti menyusun syarat dan ketentuan asuransi:

ATURAN RUMAH SINGGAH (versi awal—akan berubah)

  1. Bayar seikhlasnya, tapi ikhlas yang wajar, bukan ikhlas yang nol.
  2. Boleh merasa hancur, tapi piring bekas makan tetap dicuci sendiri.
  3. Air mata gratis, listrik patungan. Curhat lewat jam sebelas malam: tarif lembur.
  4. Jangan nangis di teras, tetangga suka salah paham. (Konon aturan ini sudah ada sejak nenek. Jangan tanya aku kenapa.)
  5. Dilarang bilang "cuma sebentar" kalau ujungnya nginep tiga hari. Kalau memang harus pergi, bilang, jangan ngilang kayak sinyal wifi.

— Dara, pemilik rumah yang juga masih bingung

Reaksi mereka, seperti biasa, tidak ada yang sesuai harapanku. Tika langsung memotretnya untuk konten dengan komentar "ini aesthetic banget". Juno menganalisisnya seolah itu naskah akademik, mempertanyakan definisi "ikhlas yang wajar" secara filosofis. Rara membaca dan langsung mematuhinya seakan itu kitab suci, yang justru membuatku ingin menambah aturan: dilarang patuh berlebihan. Dan Banyu cuma senyum-senyum, seperti dia tahu aturan-aturan itu bukan tentang mereka, tapi tentang aku yang sedang mencoba memagari sesuatu yang sudah terlanjur masuk. Aku pura-pura tidak melihat senyum itu. Tapi tanganku, saat menulis aturan terakhir, sempat ragu sedetik—karena aku sadar aku sedang menulis "kalau mau pergi, bilang", dan entah kenapa yang kubayangkan bukan mereka yang pergi, melainkan rumah yang tiba-tiba sepi lagi.

Banyu lewat sambil membaca papan itu, dan berhenti di nomor empat. "Yang ini beneran udah dari Yu Las," katanya, mengetuk pelan baris itu dengan jari. "Dulu ada anak yang sering nangis di teras malam-malam. Namanya Mahesa. Lari dari rumah karena dijodohin sama orang yang dia nggak kenal. Tiap malam dia duduk di kursi paling ujung, nangis, sampai Bu Nining yakin rumah ini berhantu. Yu Las capek ditanyain hantu mulu sama tetangga, jadi dia bikin aturan: nangis boleh, tapi di kamar belakang. Lebih sopan ke tetangga."

Lihat selengkapnya