Hujan besar pertama sejak aku tiba datang di malam ke sekian—aku sudah berhenti menghitung hari dengan tepat, dan kalau mau jujur, berhentinya aku menghitung itu lebih bikin merinding daripada hujan mana pun.
Mulanya cuma gerimis yang sopan. Lalu langit Surabaya, yang memang tidak pernah belajar basa-basi, menumpahkan air seember demi seember seolah ada yang menyenggol gayung raksasa di atas sana. Aku sedang memelototi laporan iklan properti—masih nol peminat, karena fotoku, kata Tika, "kayak olah TKP", ketika kudengar bunyi pertama. Tes. Lalu tes lagi. Lalu tes-tes-tes cepat, seperti jam yang panik.
Aku mendongak. Di langit-langit ruang tamu, di dekat lampu, sebuah noda cokelat yang sejak kemarin tidak kupedulikan kini mengkilap, basah, dan menetes tepat ke tengah sofa tua yang katanya tidak pernah dibiarkan dingin.
"Bocor!" teriakku, dengan nada orang yang baru tahu rasanya punya sesuatu untuk dikhawatirkan rusak.
Aku terkejut pada teriakanku sendiri. Bukan 'aduh ruginya'—tapi 'bocor!', seperti orang yang rumahnya benar-benar rumahnya. Sofa itu, sofa yang katanya tidak pernah dibiarkan dingin, kini ditetesi air cokelat dari plafon, dan dadaku ikut nyeri seakan yang basah itu sesuatu yang hidup. Padahal tiga minggu lalu aku menatap sofa yang sama dan cuma berpikir: angkut, jual loak, lumayan. Hujan punya cara kurang ajar untuk menunjukkan apa yang diam-diam sudah kau anggap milikmu.
Yang terjadi setelahnya adalah koreografi kacau yang, kalau direkam Tika, mungkin viral. Juno menyambar laptopnya lebih dulu (tentu saja) memeluknya seperti bayi sambil berlari ke sudut paling kering. Tika malah mengangkat ponsel, refleks, sebelum melihat tampangku dan menurunkannya lagi dengan berat hati. Rara berdiri di tengah ruangan, meminta maaf pada hujan. "Maaf, Mbak, aku… aku ambilin ember, ya? Boleh? Embernya di mana?"
"Ra, kamu nggak bikin hujan."
"Tapi tetap, maaf."