Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #9

Daftar Nama

Keesokan paginya, udara berbau hujan dan kayu basah, bau rumah yang baru saja membuktikan bahwa ia masih bisa bocor, masih bisa diselamatkan, masih punya rahasia yang tersimpan di loteng. Semua orang masih tidur, bahkan Banyu, kali ini, belum bangun lebih dulu dariku. Aku duduk di sofa yang masih lembap, menyalakan lampu, dan mengeluarkan buku tulis bersampul batik itu dari tempat aku menyembunyikannya semalam.

Kali ini ada cahaya. Kali ini aku berani.

Halaman pertama sudah kubaca malam saat aku pertama menemukannya: Datang: Sukarno, tukang becak. Hujan, gak punya tempat. Pergi: tiga hari kemudian, sudah berani pulang ke istrinya. Tanggalnya tahun delapan puluhan. Tulisan tangan nenek masih muda di situ, hurufnya lebih tegak, belum miring seperti di halaman-halaman akhir.

Aku membalik pelan. Dan rumah itu, lewat buku ini, mulai bercerita.

Tahun-tahun di buku itu tidak urut rapi. Kadang satu halaman melompati musim, kadang dua nama berdesakan di satu tanggal. Tapi pola nenek selalu sama: dua baris, tidak lebih. Satu untuk bagaimana mereka datang, satu untuk bagaimana mereka pergi. Datang menggigil, pergi membawa payung yang tak pernah dikembalikan, tak apa. Datang marah pada Tuhan, pergi cuma marah pada cuaca, kemajuan. Datang tiga kali, pergi tiga kali, datang lagi, pintu ini memang tidak pandai mengunci. Ada humor di sela-selanya, humor yang lelah dan lembut, jenis humor orang yang sudah terlalu sering melihat manusia di titik terburuknya untuk masih bisa terkejut. Aku menyusuri baris-baris itu dan merasa seperti sedang berkenalan dengan nenek dari arah yang terbalik: bukan lewat wajahnya, tapi lewat semua wajah yang pernah dia buka pintu untuknya. Aku menyesal tidak pernah benar-benar mengenalnya. Dan kali ini, penyesalan itu tidak kuubah jadi angka.

Puluhan nama. Beberapa cuma sehari. Beberapa berbulan-bulan. Seorang guru yang dipecat, menumpang sampai berani melamar di sekolah lain. Sepasang pengantin yang kabur dari dua keluarga yang saling membenci, tinggal di kamar belakang sampai salah satu keluarga melunak. Seorang pemuda yang nenek tulis cuma dengan: Datang membawa terlalu banyak marah. Pergi membawa sedikit lebih sedikit. Tidak ada yang dihakimi di buku ini. Nenek tidak menulis baik atau buruk. Dia cuma menulis: datang, lalu pergi. Seakan bagi nenek, satu-satunya dosa yang dia kenal adalah tidak punya tempat untuk salah satunya.

Di tengah halaman, satu nama menahanku karena aku sudah pernah dengar. Mahesa, yang Banyu sebut waktu menjelaskan aturan nomor empat di papan. Tulisan nenek di entrinya tegas tapi lembut: Mahesa, enam belas tahun. Lari dari rumah karena dijodohkan dengan perempuan yang dia tidak kenal. Datang membawa malu yang lebih besar dari dirinya. Sebelas bulan di sini, lulus SMA paket C dari meja makan ini. Pergi: setelah aku jamin orang tuanya akan menerima kepulangannya. Di bawahnya, nenek menambahkan dengan tinta yang jelas lebih baru, bertahun-tahun lebih baru, hurufnya sudah lebih miring, lebih tua: Sudah punya tujuh warung. Tiap Lebaran kirim parsel dan amplop. Sudah kubilang tidak perlu. Anak ini tidak akan berhenti, karena ini satu-satunya bahasa terima kasih yang dia tahu.

Aku menatap dua baris yang ditulis di waktu yang berbeda itu, yang pertama saat Mahesa pergi, yang kedua puluhan tahun setelahnya. Nenek tidak cuma mencatat orang yang datang. Dia mencatat juga, kadang-kadang, orang yang tidak pernah benar-benar bisa berhenti pulang.

Aku mulai mengerti sesuatu tentang perempuan yang nyaris tidak kukenal ini. Nenek tidak menampung orang karena dia suci. Dia menampung orang karena dia tahu sesuatu tentang bagaimana rasanya berantakan dan tetap butuh pintu yang mau dibuka. Dan mungkin yang paling ditakuti manusia bukan datang atau pergi, tapi melewati hidup tanpa pernah sekali pun tercatat bahwa ia ada.

Lalu aku sampai ke halaman itu. Halaman yang membuat napasku tertahan malam itu, yang tintanya terlalu pudar untuk kubaca dalam gelap.

Di cahaya pagi, tulisannya terbaca, tapi justru membuatku lebih bingung daripada lega. Halaman itu tidak punya nama. Tidak ada "datang", tidak ada "pergi". Cuma satu baris, ditulis dengan tekanan pena yang lebih dalam dari biasanya, seakan nenek menulisnya sambil menahan sesuatu:

Lihat selengkapnya