Masalahnya dengan menampung seorang content creator adalah: cepat atau lambat, rumahmu akan jadi konten.
Aku mengetahuinya pada Selasa sore yang seharusnya biasa saja. Tika sudah tiga hari murung, views-nya, katanya, "jatuh kayak saham gorengan". Aku tidak terlalu memperhatikan; aku sedang berperang dengan Laras lewat telepon, yang menelepon dengan keteraturan tukang tagih, mengingatkan bahwa angka penawaran "bisa turun kalau keluarga besar makin ribut". Aku menutup telepon dengan rahang kaku, dan di situlah aku melihatnya.
Tika, di pojok ruang tamu, ponsel terangkat, merekam. Dan di depan lensanya, tidak sadar, duduk Rara, sedang bercerita. Bukan cerita biasa. Aku menangkap potongannya dari kejauhan: tentang seseorang yang dijanjikan untuknya, tentang gaun yang sudah dijahit, tentang ibu yang bilang "malu-maluin kalau batal". Suara Rara, yang biasanya hampir tidak ada, kali itu mengalir—justru karena dia merasa cuma sedang bicara pada satu teman.
Dia tidak tahu sedang ditonton.
Aku berdiri membeku di ambang ruang tamu, terjepit di antara dua dorongan: yang satu ingin langsung menyambar ponsel itu, yang satu lagi takut suara kerasku justru menghentikan Rara yang baru berani bicara. Lampu kecil di sudut ponsel Tika menyala merah, kedip-kedip, mengubah air mata yang baru berani keluar itu jadi sesuatu yang bisa di-pause, di-replay, ditonton ribuan orang yang tak punya hak menontonnya. Dan Rara, yang menyangka cuma sedang bicara pada satu teman, terus mengalir, tidak tahu bahwa kejujurannya sedang direkam tanpa izin.
"Tika." Suaraku memotong ruangan. "Matikan."
Tika menoleh, kaget, lalu memasang senyum yang biasa dia pakai untuk meredakan. "Tenang, Mbak, ini bagus banget malah, ini real banget, orang-orang butuh denger cerita kayak gini, ini bisa bantu banyak orang yang—"
"Matikan."
Rara baru mengerti. Aku melihat momen itu jatuh ke wajahnya, detik ketika seseorang sadar bahwa hal paling rapuh yang baru saja dia keluarkan dari dalam dirinya kini ada di dalam kotak kaca milik orang lain. Wajahnya tidak marah. Lebih buruk: wajahnya malu, seakan ini pun salahnya.