Pemberitahuannya datang lewat pesan singkat, kalimatnya serapi surat resmi yang dipendekkan: Selamat siang, Mbak Dara. Besok jam 10, tim kami akan melakukan survei properti untuk keperluan dokumen penawaran. Mohon kehadiran pemilik/wali sah. Terima kasih. — L, PT Cakra Graha.
Satu huruf. L. Aku menyimpannya di belakang otak dengan cara yang sama aku menyimpan hal-hal yang belum siap kupikirkan: dikunci, diberi label, ditaruh di rak yang tidak sering kujangkau.
Keesokan paginya, tepat pukul sepuluh kurang lima, sebuah mobil putih berhenti di ujung gang. Terlalu bersih untuk gang kami, seperti orang yang menyetrika bajunya sebelum ke pasar becek. Dari dalam keluar seorang perempuan sendirian, tanpa rekan, tanpa asisten. Kemeja kerjanya rapi sampai terkesan bukan pilihan, melainkan kebijakan. Rambutnya tertarik ke belakang dengan cara yang membuang waktu sesedikit mungkin untuk urusan penampilan. Tas kerjanya tipis, isinya pasti hanya yang perlu saja. Segalanya tentang perempuan ini berkata: efisiensi, dan tidak ada ruang untuk yang selain itu.
"Mbak Dara?" Dia mengulurkan tangan begitu sampai di teras, jabatannya singkat dan kuat. "Laras. Dari PT Cakra Graha. Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Banyu muncul di ambang dapur, gelas di tangan, menatap Laras dengan tatapan yang tidak kukenali dari biasanya, bukan tatapan malas atau setengah mengantuk, melainkan tatapan orang yang sedang mencatat sesuatu diam-diam.
"Silakan," kataku, membuka pintu lebih lebar. Pintu itu berdehem. Laras berhenti.
Dia menatap kertas pudar yang tertempel di daun pintu, hurufnya ditulis tangan dengan spidol yang tintanya hampir habis. Ketuk dua kali kalau berantakan. Tangannya (yang sudah siap membuka buku catatan) turun sedikit. Hanya sedikit. Matanya membaca satu baris itu dua kali; aku menghitung. Lalu ekspresinya kembali ke posisi standar, dan dia masuk ke dalam seperti tidak ada yang terjadi.
Tapi aku menangkap itu. Dan dari sudut mataku, aku melihat Banyu menangkapnya juga.
Laras tidak memerlukan tur. Dia yang memimpin, berjalan dari ruangan ke ruangan dengan langkah terukur, mencatat di buku kecilnya tanpa komentar. Ini cara orang yang sudah terlalu sering menilai tempat, tanpa melibatkan perasaan, tanpa membiarkan apa pun menempel. Dia mengukur tinggi langit-langit dari luar pandang, mengetuk tembok sekali di tiga titik berbeda, membuka-tutup jendela kamar dengan jari yang mencari kekurangan. Di dapur, dia mencatat kondisi kompor tanpa menyentuhnya. Di loteng, dia menyorot dengan lampu ponsel sambil menghitung.
Aku mengikutinya, bukan karena kewajiban, melainkan karena tidak tahu harus melakukan apa selain itu. Di belakangku, rumah berjalan seperti biasa: Tika mengedit sesuatu di kamarnya, Juno bergumam tentang referensi yang tidak dia temukan, Rara menyiapkan teh yang tidak diminta oleh siapa pun kecuali oleh kebiasaannya sendiri. Dan Banyu, Banyu tetap di dapur, tapi aku bisa merasakan dia mengikuti pergerakan Laras lewat cara-cara yang tidak membutuhkan dirinya ada di ruangan yang sama.
"Struktur bangunannya lebih baik dari yang saya perkirakan," kata Laras, mencatat sesuatu. "Tulang utamanya masih kokoh. Genting butuh perhatian, tapi bukan darurat." Lalu dia menambahkan, hampir seperti berpikir keras, "Rumah ini dirawat oleh seseorang yang tahu caranya."
"Nenek saya," kataku.
"Iya." Dia tidak melanjutkan. Tapi ada sesuatu di kata "iya" itu yang terasa lebih panjang dari yang diucapkannya.