Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #13

Juno dan Batas Akhir

Surat itu datang di hari yang terlalu biasa untuk sesuatu yang tidak biasa: Selasa pagi, matahari terlalu cerah, Rara sedang menjemur handuk, Tika berdebat dengan algoritma. Amplop resmi berlogo kampus, ditujukan ke nama lengkap Juno yang hampir tidak pernah dipakai siapa pun (Djunanto Eko Prasetyo) dan siapa pun yang mengirim amplop dengan nama sepanjang itu biasanya tidak membawa berita menyenangkan.

Juno membacanya di ruang tamu, berdiri, dan selama sepuluh detik tidak melakukan apa-apa. Wajahnya tidak berubah, matanya tidak bergerak dari baris yang sama. Aku mengenali keheningan itu, keheningan orang yang otaknya sedang memproses sesuatu yang lebih besar dari yang dia siapkan.

"Jun?" Aku memanggil pelan.

Dia melipat suratnya. Rapi. Terlalu rapi untuk bukan upaya menyembunyikan sesuatu. "Udah," katanya, dengan nada yang ingin terdengar santai dan justru karena itu paling tidak.

Dia naik ke kamar. Pintu tidak dibanting, yang lebih buruk: ditutup pelan, cara orang yang tidak mau ribut karena memang tidak punya tenaga untuk ribut.

Aku mengambil amplop yang ditinggalnya di meja. Aku tahu tidak seharusnya. Tapi aku mengambilnya. Dan membacanya.

Surat peringatan akademik. Batas waktu penyelesaian tugas akhir: tiga bulan. Jika tidak ada pengajuan bab lengkap dalam rentang waktu tersebut, mahasiswa yang bersangkutan akan dinyatakan tidak memenuhi syarat kelulusan semester ini dan akan dikenai prosedur pengulangan status.

Tiga bulan. Aku mengembalikan surat itu ke meja persis seperti saat kutemukan.

Makan siang hari itu aneh. Bukan karena sunyi — Tika masih ribut, Rara masih sopan, Banyu masih meletakkan teh dengan timing yang terlalu tepat. Tapi Juno duduk di kursinya dengan cara berbeda. Lebih tegak. Lebih pendiam. Seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya dan angkanya tidak berpihak.

"Aku perlu pinjam meja," katanya di tengah makan, tidak ke siapa-siapa khusus. "Meja yang bener. Yang nggak goyang kalau diketuk."

Banyu, tanpa mengangkat kepala dari piringnya: "Yang di pojok bisa dipakai. Kaki kirinya aku sudah ganjel kemarin."

"Makasih."

Itu selesai. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Di rumah ini, kami sudah belajar cara memberikan ruang tanpa menamainya.

Jam dua siang, Juno turun dengan laptop dan segunung kertas yang belum pernah kulihat dia bawa ke bawah sebelumnya. Kertas-kertas itu ditumpuk tidak rapi di tepi meja — tulisan tangan, print-out dengan coretan merah, sticky note berwarna-warni yang tidak semuanya terbaca, dan dari penampakannya, ini bukan awal dari sebuah skripsi. Ini adalah sisa dari ribuan jam yang sudah dia curahkan tanpa pernah berani menamakannya kemajuan.

Tika lewat, melirik, menahan komentar. Rara menaruh segelas air di sudut meja tanpa bersuara. Aku duduk di sofa dengan pura-pura membaca, tidak pindah ke kamar, karena ada hal-hal yang lebih baik ditemani dari jarak yang sopan.

Jam empat, Juno belum mengetik satu kata pun. Dia hanya membolak-balik kertas, menata ulang, menata lagi. Satu kali dia membuka laptopnya dan menatap layar kosong selama dua belas menit penuh. Aku menghitung. Lalu dia menutupnya kembali dan meletakkan dahi di meja.

"Jun."

Lihat selengkapnya