Listrik mati jam tujuh malam, tepat di saat Tika sedang live, Juno di titik terpanas debatnya sendiri dengan bab dua, dan Rara baru saja menyalakan kompor untuk memanaskan sup. Satu detik penuh cahaya dan suara, satu detik gelap total, dan kemudian, empat suara dari empat arah yang berbeda mengatakan hal yang hampir sama, dengan intonasi yang sangat berbeda.
Tika: "HAAAA KENAPA"
Juno: "...tidak."
Rara: "Aduh, maaf, maaf…"
Banyu, dari arah dapur, tenang: "Token habis."
Token habis. Dua kata yang seharusnya sederhana tapi pada jam tujuh malam, dengan empat orang dan satu gang yang tidak punya warung token buka sampai malam, terasa seperti pengumuman akhir dunia versi kecil.
Aku mengisi token terakhir kemarin. Aku tahu itu. Artinya yang habis sekarang adalah token yang belum sempat kuisi karena aku menghabiskan tiga hari terakhir memikirkan surat dari developer dan bukan hal-hal yang seharusnya aku pikirkan. Aku tidak mengatakannya keras-keras.
Kami mengumpulkan lilin. Sumbernya tidak terduga: dua batang dari laci dapur (nenek jelas sudah mengantisipasi ini), satu dari tas Rara yang ternyata menyimpan lilin aromaterapi karena "ada yang bilang ini bikin tenang", dan sebuah senter kepala yang entah dari mana ditemukan Banyu di balik lemari kamar mandi. Lampu darurat dari ponsel masing-masing melengkapi sisanya. Lima menit kemudian, ruang tamu berpendar cahaya yang tidak rata dan cukup dramatis untuk adegan yang tidak ada yang rencanakan.
"Ini romantis atau mengerikan, aku bingung," kata Tika, mengarahkan senter kepalanya ke wajah sendiri.
"Dua-duanya bisa," kata Juno. "Tergantung latar belakang musiknya."
Mereka duduk melingkar di lantai ruang tamu, bukan di sofa, bukan di kursi, karena ada sesuatu tentang gelap dan lantai yang membuat hierarki tempat duduk kehilangan berlakunya. Rara duduk menyilangkan kaki seperti murid SD, sup yang tidak jadi dipanaskan tergeletak di samping kompor. Juno meletakkan laptopnya di sudut dengan ikhlas yang tidak pernah dia tunjukkan di siang hari. Tika masih memegang ponsel tapi layarnya menghadap ke bawah, Tika, yang ponselnya selalu menghadap ke atas.
Banyu membuat teh dengan cara yang tidak butuh listrik: kompor gas, air panas, gelas-gelas yang ditaruhnya di tengah lingkaran seperti seseorang yang tahu persis bahwa malam seperti ini butuh alasan untuk duduk bersama lebih lama dari yang direncanakan.
"Aturan nomor tiga," kata Juno, membaca papan aturan dari ingatan karena papannya tidak terlihat dalam gelap. "Air mata gratis, listrik patungan. Kita udah buktiin yang kedua. Sekarang siapa yang mau buktiin yang pertama?"