Telepon dari Laras datang pagi hari, sebelum aku sempat minum kopi.
"Mbak Dara, maaf ganggu pagi-pagi. Saya mau kasih tahu langsung: penawaran kami ada revisi. Uang mukanya naik dua puluh persen, dan tenggat dipercepat. Keputusan harus sebelum Jumat."
Aku berdiri di teras, pagi yang baru mulai, suara kompor dipukul dua kali dari dapur terdengar di belakangku. "Kenapa dipercepat?"
"Ada perkembangan dari pihak internal," kata Laras. Kalimat itu punya cara mengatakan banyak tanpa mengatakan apa-apa. "Saya minta maaf. Saya tahu ini tidak mudah." Jeda. "Satu hal lagi yang perlu Mbak tahu: keluarga Mbak yang lain sudah menghubungi kantor kami. Mereka menawarkan diri sebagai pihak alternatif."
Om Bambang. Tentu saja.
"Kalau ada perubahan dari sisi Mbak, hubungi saya sebelum Jumat," kata Laras. "Saya lebih memilih bicara dengan nama yang ada di sertifikat." Lalu dia menutup telepon, dan aku berdiri di teras memegang ponsel sampai layarnya gelap sendiri.
Mereka datang siang itu. Om Bambang, tanpa Tante Yuli kali ini, tapi dengan pengacara yang kemarin cuma memotret, sekarang membawa map. Mereka tidak mengetuk. Tentu saja.
"Kita perlu bicara," kata Om Bambang, sudah masuk sebelum aku mempersilakan. "Sebentar aja. Nggak perlu panjang."
Pembicaraannya singkat dan tidak menyenangkan: jika aku tidak segera bertindak, mereka akan mengajukan gugatan kepemilikan berdasarkan hubungan darah. Pengacara mereka sudah cari celah. Prosesnya bisa panjang dan mahal. "Kamu yang rugi paling banyak kalau ini sampai ke pengadilan," kata Om Bambang, suaranya bukan ancaman, lebih buruk dari itu, fakta yang disampaikan tanpa rasa bersalah. "Mending ambil yang sudah ada sekarang. Kamu bukan orang yang harusnya nanggung rumah tua ini sendirian."
Banyu muncul dari dapur, berdiri di ambang, tidak berkata apa-apa. Cukup berdiri. Om Bambang melihatnya, mengenalinya sebagai variabel yang tidak dia perhitungkan, dan memutuskan untuk mengabaikannya. Pengacara mereka meninggalkan satu lembar kertas di meja (ringkasan dari posisi hukum mereka, dingin dan efisien) dan mereka pergi seperti datang.
Rumah jadi sunyi setelah pintu berdehem menutup.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Banyu.
"Iya," kataku. Itu tidak sepenuhnya benar.