Tiga hari kerja. Itu yang dijanjikan Laras sebelum uang muka cair, dan aku menghabiskan pagi pertama dari tiga hari itu dengan tubuh yang terasa seperti dipinjam dari orang lain. Aku bangun lebih siang dari biasanya, di kamar yang jendelanya baru mereka lap sampai bening, dan untuk beberapa detik pertama aku lupa. Lalu aku ingat, dan ingatan itu turun ke dadaku seperti air dingin yang dituang pelan-pelan: aku sudah menandatanganinya. Rumah yang baru kemarin mereka bersihkan untukku, sudah kujual di atas meja yang sama tempat kue gosongku ditiup.
Di bawah, rumah sedang sibuk dengan kesibukan yang sekarang kukenali sebagai pagi. Suara kompor dipukul dua kali. Suara Juno protes soal sesuatu. Suara Rara menyapu dengan ritme orang yang menyapu bukan karena kotor, tapi karena menyapu membuatnya merasa berhak ada di sini. Aku berbaring mendengarkan semua itu dari lantai atas, dan suara-suara itu tidak lagi terdengar seperti rumah. Terdengar seperti ruang tunggu.
Aku turun dengan wajah yang sudah kulatih di cermin. Senyum yang tidak terlalu lebar, supaya tidak mencurigakan; tidak terlalu tipis, supaya tidak ada yang bertanya. Aku sudah ahli memakai wajah ini. Aku memakainya bertahun-tahun di kos, di kantor, di setiap tempat yang kutinggali sambil berkata pada diriku sendiri bahwa aku cuma menumpang. Yang tidak kuduga adalah betapa beratnya memakai wajah itu di satu-satunya tempat yang membuatku ingin melepasnya.
"Mbak Dara!" Tika mengangkat ponselnya, lalu menurunkannya lagi sebelum aku sempat memelototi. Refleks yang sudah dia jinakkan demi aku. "Sarapan. Rara bikin nasi goreng. Katanya buat ngabisin nasi semalem, padahal dia masak baru, aku liat sendiri."
"Nggak usah dibilang-bilang," kata Rara cepat, pipinya memerah, menaruh piring di depanku dengan dua tangan seperti menyerahkan sesuatu yang rapuh. "Makan, Mbak. Mumpung anget."
Aku menatap piring itu. Nasi goreng dengan telur yang dilipat rapi di atasnya, sedikit terlalu rapi, khas orang yang memasak sambil takut salah. Tiga minggu lalu aku akan menghitung berapa harga semua ini per porsi. Pagi ini aku cuma bisa menghitung berapa hari lagi sebelum piring ini, meja ini, dapur ini berhenti jadi milik kami. Aku menyuap satu sendok dan memujinya, dan pujianku tulus, dan justru ketulusan itu yang membuatku ingin menangis di atas nasi goreng jam delapan pagi.
Banyu menaruh teh di sebelah piringku tanpa berkata apa-apa. Terlalu manis, seperti biasa. Dia tidak menatapku lama, tapi dia menaruhnya sedikit lebih pelan dari biasanya, seakan dia tahu aku sedang memikul sesuatu dan memilih untuk tidak menambah beratnya dengan pertanyaan. Aku hampir lebih sanggup menghadapi interogasi daripada kelembutan yang tidak kuminta ini.
Maka ketika ketukan itu datang, aku hampir bersyukur untuk gangguannya.
Kecuali bahwa itu bukan ketukan.
Pintu depan terbuka langsung (bukan diketuk, bukan dua kali, bukan ragu) didorong oleh tangan orang yang menganggap dirinya berhak masuk. Seorang laki-laki berkemeja rapi dengan tali pengenal tergantung di leher dan sebuah alat ukur lipat di tangannya berdiri di ambang, matanya sudah memindai langit-langit dan dinding sebelum menyentuh wajah siapa pun. Di belakangnya, seorang lagi membawa tripod dengan alat yang kukenali dari iklan properti: pengukur jarak laser.
"Selamat pagi," katanya, nadanya nada orang yang waktunya milik perusahaan. "Dari Cakra Graha. Kami mau ukur ulang batas tanah sama kondisi bangunan. Janjian sama," dia melihat papan jalannya, "pemilik. Atas nama Dara."