Hari kedua dari tiga hari itu, Banyu menghilang.
Bukan lama, cuma sejak pagi sampai sore, tidak ada yang mempertanyakan ke mana, karena di rumah ini orang datang dan pergi dengan ritme mereka sendiri dan tidak ada yang bertugas mencatat. Tapi sorenya, ketika dia pulang membawa kantong berisi paku dan cat tembok, jaketnya tersangkut di paku tangga. Sesuatu jatuh dari sakunya ke lantai ruang tamu, tepat di dekat kakiku.
Aku memungutnya sebelum berpikir.
Sebuah kartu kecil, lecek, sudutnya membulat karena terlalu lama disimpan. Bukan kartu nama. Foto kecil, ukuran pas foto lama, hitam putih yang menguning. Seorang perempuan muda yang tersenyum (wajahnya kukenali dari satu-satunya foto Sulastri yang ada di dompetku) menggendong seorang anak kecil yang wajahnya sudah terlalu pudar untuk dikenali. Dan di belakang foto, dengan tinta yang nyaris hilang, dua huruf dan sebuah tanda hubung: untuk L—
Aku mendongak. Banyu sudah turun dari tangga. Dia melihat foto itu di tanganku, dan kali itu wajahnya kehilangan ketenangannya. Cuma sekejap. Lalu dia menariknya kembali, seperti orang menarik selimut yang tersingkap tanpa izin.
"Itu dari mana?" Suaraku keluar lebih keras dari yang kumau.
"Jatuh dari saku kamu."
Dia menggenggam foto itu. Menatapnya sebentar, bukan seperti orang menatap benda asing, melainkan seperti orang menatap sesuatu yang sudah terlalu lama dia jaga sampai dia sendiri lupa kenapa. Lalu memasukkannya kembali ke saku. "Aku nyimpenin."
"Nyimpenin buat siapa?"
"Buat nanti."
"Buat nanti apa, Banyu?"
Dia tidak menjawab. Mengambil kantong pakunya, mau naik lagi. Aku melangkah ke depannya.
"Kamu ambil itu dari kotak perkakas waktu pertama kali datang," kataku. Kalimat itu keluar lebih datar dari yang kurasa, karena ternyata aku sudah menyimpan kecurigaan itu lama. "Aku lihat. Waktu itu aku nggak tanya karena kupikir tidak penting. Ternyata penting."
Banyu berhenti. Punggungnya ke arahku. Bahu yang biasanya rileks itu sekarang sedikit terangkat, orang yang sedang memilih kalimat dengan hati-hati.