Hari ketiga dari tiga hari itu, aku bangun sebelum siapa pun, karena rasa bersalah ternyata weker yang paling akurat dari alarm mana pun.
Rumah masih gelap. Semua pintu kamar tertutup. Di dapur, kompor berdiri diam menunggu pukul dua pertama Banyu, dan di ruang tamu buku tamu bersampul batik itu masih di tempat yang sama, di bawah sofa, di antara debu dan kenangan yang sama-sama tidak suka disentuh.
Aku mengambilnya. Duduk di lantai, punggung ke sofa, dan membacanya dari awal untuk kedua kalinya, bukan karena mau mencari sesuatu, melainkan karena tidak bisa tidur dan sudah kehabisan alasan untuk terus berbaring.
Entri demi entri. Nama-nama yang tidak kukenal, hidup yang berlintasan singkat di rumah ini. Di tulisan tangan nenek yang makin condong ke halaman-halaman akhir, aku menemukan sebuah ritme: selalu ada kalimat tentang bagaimana mereka pergi. Pergi lebih ringan. Pergi membawa payung yang tidak dikembalikan. Pergi untuk mencoba lagi. Seakan bagi nenek, yang penting bukan bagaimana orang datang, melainkan bagaimana mereka pergi.
Aku membaca lebih lambat di bagian yang tahunnya mendekati tahun di KTP-ku.
Sebelum sampai ke sana, sesuatu lain menarikku.
Di ujung koridor lantai satu, ada pintu yang selama ini tidak pernah terbuka penuh. Aku mengira terkunci. Tapi pagi ini, mungkin karena udara lembap semalam membuat kayu mengembang, pintu itu terbuka selebar kepalan tangan. Aku mendorongnya.
Kamar kecil. Lebih kecil dari kamar lain, jendelanya menghadap tembok sehingga tidak pernah dapat cahaya langsung. Di sudut ada boks kayu (ukuran boks bayi) dengan ukiran sederhana di sisinya dan sepotong kain putih yang sudah menguning di atasnya. Di dalam boks, bukan bayi tentu saja, hanya selimut kecil yang dilipat dengan cara seseorang yang tidak bisa membuang sesuatu yang pernah menyelimuti sesuatu yang disayangi.
Di dinding di atas boks, ditempel dengan selotip yang hampir lepas: sebuah foto. Hitam putih. Seorang perempuan muda yang berdiri di depan rumah ini (kukenali teras dan tulisan di pintu yang kelihatan samar di tepi frame) memegang bayi yang wajahnya menghadap ke dalam, tidak terlihat ke kamera. Di bawah foto, dengan pensil yang sudah memudar: untuk yang datang sesudahnya, semoga pintumu lebih mudah dari pintuku.
Aku berdiri di kamar itu lama sekali.
Kalimat itu masuk terlalu dalam untuk pagi yang terlalu sunyi. Untuk yang datang sesudahnya. Bukan untuk seseorang tertentu. Untuk siapa pun yang datang setelah perempuan ini pergi. Seperti seseorang yang tahu dia tidak akan kembali, dan meninggalkan sesuatu bukan karena berharap dikenang, tapi karena ingin orang yang datang berikutnya tahu: sebelumnya pun ada yang berjuang di sini.