Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #19

Tika Viral, Tapi Salah

Tika tidak cerita. Kami yang nemu sendiri.

Juno yang pertama, pagi itu, sambil sarapan. Dia menghentikan sendoknya di udara dan berkata dengan nada datar, "Tik, itu kamu, ya." Layar laptopnya menampilkan kolom komentar yang terlalu ramai untuk jam delapan pagi.

Video itu bukan video baru. Video itu footage yang diambil Tika dari malam beberapa minggu lalu, malam ketika Rara menangis di depan kamera tanpa tahu sedang direkam, yang waktu itu sudah diselesaikan dengan permintaan maaf dan janji tidak diunggah. Tapi footage itu entah bagaimana bocor. Bukan dari Tika langsung (atau begitulah ceritanya, dan aku memilih percaya) melainkan dari backup otomatis akun editingnya yang ternyata tersinkron ke platform lain tanpa dia izinkan. Teknologi yang terlalu membantu di waktu yang paling tidak tepat.

Yang membuatnya viral bukan isi videonya. Yang membuatnya viral adalah cara orang meresponsnya: ribuan komentar yang mengolok-olok, bukan Rara, tapi Tika. Ini si konten kreator yang katanya authentic? Ngerekam orang lagi nangis? Konten sampah berkedok empati. Follower-nya doang yang nggak tahu dia kayak gini di belakang layar. Nama akun Tika muncul di thread-thread lain. Orang-orang yang bahkan tidak mengenal siapa pun di video itu menghakimi dengan kecepatan yang hanya internet yang mampu.

Tika ada di kamarnya. Pintu dikunci. Aku tahu dia tahu.

Rara adalah yang pertama pergi ke kamarnya.

Aku mendengar dari bawah: pintu diketuk, bukan dua kali tapi beberapa kali pelan. Tidak ada jawaban lama. Lalu suara Rara, samar: "Tik, aku mau bilang sesuatu. Kalau kamu mau dengar." Jeda. Pintu terbuka.

Mereka di dalam cukup lama. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Rara. Tapi saat mereka keluar (Tika dengan mata yang sudah lebih kering dari yang kusangka, Rara dengan ekspresi seseorang yang baru saja menaruh sesuatu yang berat dan memutuskan untuk tidak menyesal) ada sesuatu di antara mereka yang berbeda dari sebelumnya. Bukan persahabatan baru. Lebih seperti dua orang yang sudah saling melihat di titik paling buruknya dan memilih untuk tidak pergi.

"Mbak Dara," kata Tika, dan suaranya lebih pelan dari biasanya tapi tidak rapuh, "aku minta maaf lagi. Aku tahu udah pernah. Tapi rasanya perlu diulang."

"Kamu nggak sengaja," kataku.

"Itu bukan intinya." Dia duduk di kursi makan, meletakkan ponselnya di meja dengan layar menghadap ke bawah. Gerakan yang kelihatan kecil tapi bagi Tika terasa seperti menaruh sesuatu yang sudah lama mau dia taruh. "Intinya aku udah lama ngerekam orang sebagai material. Bukan sebagai orang. Dan itu salah, bahkan kalau nggak bocor sekali pun."

Aku tidak langsung menjawab. Tika tidak butuh pembelaan dan dia tidak sedang minta itu. Yang dia butuhkan, kira-kira, adalah seseorang yang tidak segera membuat situasinya jadi lebih ringan, karena meringankan terlalu cepat juga bisa jadi cara menghindar dari yang sebenarnya.

"Kamu mau ngapain sekarang?" tanyaku akhirnya.

"Nggak tahu." Jeda. "Tapi pertama, aku mau nulis sesuatu buat diriku sendiri. Bukan buat konten. Bukan buat followers. Cuma buat aku."

"Semacam aturan?"

Dia melirik papan aturan di dinding. Menatapnya lama. "Boleh?"

Aku mengambil spidol dari laci dapur dan meletakkannya di depan Tika. Dia memegangnya lama sebelum berdiri, berjalan ke papan, dan menambahkan satu baris di bawah tulisan-tulisan lain yang sudah ramai:

Lihat selengkapnya