Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #20

Laras Kembali, Sendirian

Dia datang malam hari, bukan pada jam yang masuk akal untuk urusan bisnis.

Aku sedang di teras (tidak bisa tidur, lagi, karena uang muka yang besok cair dan rahasia yang masih di rak buku) ketika langkah sepatu hak itu terdengar dari ujung gang. Aku mengenali ritmenya sebelum orangnya kelihatan: langkah yang terlalu teratur untuk orang yang sekadar lewat.

Laras berhenti di depan gerbang. Tidak masuk. Hanya berdiri di bawah lampu gang yang berkelip, melihat ke arah rumah ini dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca dari jarak itu. Tidak ada map di tangannya. Tidak ada tas kerja. Hanya dirinya, kemeja yang sedikit lebih kasual dari biasanya, dan sesuatu di cara dia berdiri yang berbeda dari semua kali aku melihatnya sebelumnya.

Aku berdiri dari kursi teras. "Mbak Laras?"

Dia tidak kaget, tapi tubuhnya sedikit menegang, seperti orang yang sudah tahu akan ketahuan tapi belum memutuskan apa yang akan dikatakannya kalau iya. Lalu dia melonggarkan bahunya, dan berjalan masuk ke halaman, berhenti di satu langkah sebelum teras.

"Mbak Dara." Suaranya lebih pelan dari biasanya. Lebih datar, tapi bukan datar yang profesional, datar yang sedang menahan sesuatu. "Maaf, saya tahu ini tidak pada tempatnya."

"Nggak apa-apa." Aku duduk kembali, memberi isyarat ke kursi sebelahku. "Mau duduk?"

Dia melirik kursi itu sebentar. Lalu menggeleng pelan. "Nggak perlu lama."

Dia menatap ke arah tulisan di pintu, yang dari sini, di bawah cahaya lampu teras yang temaram, masih bisa dibaca. Matanya di sana lebih lama dari yang perlu. Waktu terakhir dia berdiri di sini dalam kapasitas resmi, aku menangkap ekspresi yang sama. Sekarang, tanpa map dan tanpa jadwal, ekspresi itu lebih terbuka.

"Ibu saya pernah cerita soal tempat ini," katanya akhirnya.

Aku tidak bergerak.

"Saya cuma mau lihat apa benar ada." Tangannya menyentuh tiang gerbang, satu sentuhan kecil, ujung jari. "Ternyata ada."

Kalimat itu jatuh ke ruang teras dengan berat yang tidak sesuai ukurannya. Saya cuma mau lihat apa benar ada. Seperti seseorang yang selama bertahun-tahun mendengar cerita tentang sebuah tempat dan akhirnya berdiri di depannya, dan ternyata tempatnya nyata, dan entah kenapa itu malah membuat segalanya lebih rumit.

"Ibu Mbak pernah ke sini?" tanyaku, hati-hati.

Lihat selengkapnya