Mereka datang pagi-pagi, sebelum aku sempat membereskan apa pun, dan di rumah ini, membereskan tidak pernah benar-benar selesai. Tiga mobil parkir berjejer di gang yang biasanya cuma muat satu motor dan satu gerobak bakso. Pak Darto sampai keluar membawa sapu, bukan untuk menyapu, tapi untuk berdiri memegang sesuatu sambil mengawasi. Aku tahu bunyi klakson keluargaku. Klakson yang merasa berhak.
Mbah Hadi turun lebih dulu, kemeja batiknya licin seperti baru disetrika di mobil. Di belakangnya Mbah Ratna, lalu Mbah Tomo yang membawa map cokelat seolah dia datang ke rapat direksi, bukan ke rumah mendiang ibunya sendiri. Mereka berdiri sebentar di depan pintu, membaca tulisan tangan Nenek yang sudah pudar di kertas tempelan di daun pintu (ketuk dua kali kalau berantakan) dan tidak satu pun dari mereka mengetuk. Mereka langsung masuk. Karena bagi mereka, rumah ini bukan tempat yang harus diketuk. Rumah ini barang yang harus dibagi.
“Dara,” kata Mbah Hadi, membuka tangannya lebar seakan aku anak kecil yang harus berlari memeluknya. Aku tidak berlari. “Kamu kelihatan kurus. Rumah ini menyusahkanmu, ya?”
Di dapur, aku dengar gelas berhenti berdenting. Tika berhenti mencuci. Juno yang biasanya ngomong duluan justru diam. Banyu muncul dari arah belakang dengan tangan masih kotor oli, dan aku lihat dia membaca situasi dalam dua detik—siapa orang-orang ini, kenapa mereka berdiri seperti pemilik, kenapa punggungku menegang.
“Kami cuma mau bicara baik-baik,” kata Mbah Ratna, duduk di kursi Nenek tanpa permisi. Aku ingin bilang itu kursi Nenek. Aku tidak bilang apa-apa. “Kamu masih muda, Dara. Kamu nggak ngerti betapa beratnya ngurus rumah tua. Pajaknya, bocornya, orang-orang asing yang,” dia melirik ke arah Juno dan Tika, “numpang.”
“Mereka bukan numpang,” kataku. Suaraku lebih kecil dari yang kuinginkan. “Mereka bayar. Mereka ikut benerin rumah ini.”
Mbah Tomo membuka map cokelatnya. Di dalamnya ada hitungan. Tentu saja ada hitungan. Angka penawaran developer, dibagi sekian ahli waris, dikurangi ini ditambah itu, dengan kolom namaku di paling bawah seakan aku tinggal tanda tangan untuk menyelesaikan masalah semua orang. “Ini adil,” katanya. “Kakak nggak ninggalin wasiat yang jelas. Secara hukum, rumah ini milik bersama. Kamu kebetulan saja yang tinggal di sini waktu Ibu meninggal.”
Kebetulan. Kata itu menancap lebih dalam dari yang dia kira.
Aku mau bilang aku bukan kebetulan. Aku yang merawat Nenek di bulan-bulan terakhir. Aku yang memandikan, yang menahan tubuhnya waktu dia tidak kuat berdiri, yang tidur di lantai kamarnya supaya dia tidak sendiri kalau terbangun jam tiga pagi ketakutan. Tapi mulutku tidak mau membuka. Karena di dalam map cokelat itu, semua yang kulakukan tidak punya kolom. Cinta tidak punya kolom di hitungan Mbah Tomo.
Aku melirik ke arah dapur. Tika berdiri kaku dengan spons di tangan, busa menetes ke lantai, dan kali ini dia menyaksikan sesuatu yang penting tanpa mengangkat ponsel. Juno menggenggam gelas kopinya terlalu erat. Mereka mendengar semuanya—kata numpang, kata kebetulan, angka-angka yang memotong rumah tempat mereka tidur menjadi pecahan warisan. Mereka tidak berani bersuara, karena secara hukum ini memang bukan urusan mereka. Tapi wajah mereka berkata lain. Wajah mereka berkata: ini juga rumah kami, meski kami tidak punya kolom di map cokelat itu. Dan aku, yang seharusnya membela mereka, malah berdiri diam seperti tamu di rumah sendiri.
“Kami sudah bicara sama orang developer,” lanjut Mbah Hadi, lebih pelan, lebih seperti orang yang merasa sedang berbaik hati. “Mereka serius. Tenggatnya makin dekat. Kalau kita jual sekarang, semua kebagian. Kalau kamu keras kepala dan tenggatnya lewat, harganya jatuh, dan kamu yang akan disalahkan seluruh keluarga. Kamu mau jadi orang yang bikin keluarga ini rugi gara-gara sentimentil sama tembok tua?”
“Tembok tua ini rumah Nenek,” kataku.