Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #22

Kamar yang Terkunci

Ada satu kamar di rumah ini yang tidak pernah kubuka.

Bukan karena aku takut. Setidaknya itu yang kukatakan pada diriku sendiri selama berbulan-bulan. Kamar itu ada di ujung lorong, di belakang lemari kayu besar yang separuh menutupi pintunya, dan kuncinya tidak pernah kutemukan. Aku sudah mencari di laci dapur, di kotak perkakas, di toples-toples tempat Nenek menyimpan benda-benda yang tidak punya nama. Tidak ada. Lama-lama aku berhenti mencari. Rumah tua selalu punya satu pintu yang tidak mau dibuka; kupikir aku tinggal membiarkannya.

Tapi malam setelah keluargaku pergi, setelah Banyu menjaga pintuku sampai pagi, aku tidak bisa tidur lagi. Aku berjalan ke ruang tengah dan berdiri di depan foto Nenek yang tergantung di dinding—foto hitam putih, wajahnya muda, matanya menatap kamera dengan ekspresi orang yang tahu sesuatu yang tidak dia ceritakan. Aku menatapnya lama. Lalu, entah kenapa, aku mengangkat foto itu dari paku-nya.

Di belakang bingkai, direkatkan dengan selotip yang sudah menguning, ada kunci.

Kunci kecil, kuningan, dengan benang merah diikat di lubangnya. Tanganku gemetar waktu melepasnya. Bukan karena dingin. Karena aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa kunci ini milik kamar di ujung lorong. Nenek menyembunyikannya di tempat yang harus kucari dengan sengaja. Seakan dia ingin pintu itu terbuka, tapi hanya untuk orang yang cukup peduli untuk mengangkat wajahnya dari dinding.

Lorong itu gelap. Aku tidak menyalakan lampu besar; aku cuma membawa senter ponsel. Lemari kayu itu berat, tapi aku berhasil menggesernya beberapa senti, cukup untuk menyelipkan tubuh ke pintu. Kunci masuk ke lubang dengan suara yang terlalu halus untuk pintu yang sudah terkunci bertahun-tahun. Klik. Dan pintu terbuka ke dalam, mengeluarkan napas udara yang sudah lama tidak bernapas: bau debu, kayu, dan sesuatu yang manis-pahit seperti kertas tua.

Kamar itu kecil. Lebih kecil dari yang kubayangkan untuk sebuah kamar yang menyimpan begitu banyak diam.

Dan di tengahnya, ada tempat tidur bayi.

Kayunya gelap, jerujinya diukir dengan tangan, catnya sudah mengelupas di sudut-sudut. Di dalamnya tidak ada apa-apa selain selimut kecil yang dilipat rapi, warnanya pudar entah dulu kuning atau hijau. Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa melangkah masuk untuk beberapa lama. Tempat tidur bayi. Di rumah seorang perempuan tua yang, setahu seluruh keluarga, tidak pernah punya anak kandung.

Aku akhirnya masuk. Lantainya berderit menyebut keberadaanku.

Lihat selengkapnya