Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #23

Masing-Masing di Titik Terendah

Ada hari-hari ketika rumah ini terasa seperti satu tubuh, dan kalau satu bagian sakit, semua bagian ikut demam. Hari itu salah satunya. Bukan karena ada satu bencana besar, tapi karena semua orang, di sudutnya masing-masing, sedang sampai di dasar sesuatu, dan kali ini, mereka sampai di dasar itu hampir bersamaan.

Aku tahu soal Juno duluan. Pagi-pagi dia duduk di teras dengan laptop yang layarnya retak di pojok, dan dia tidak mengetik. Dia cuma menatap dokumen skripsi yang sudah dia buka berhari-hari tapi tidak maju-maju. Surat dari kampus tergeletak di sampingnya, sudah lusuh karena terlalu sering dilipat dan dibuka. Batas akhir. Kalau dia tidak menyelesaikan revisi bulan ini, dia di-drop out, dan tujuh tahun kuliahnya berubah jadi tujuh tahun yang tidak berbentuk apa-apa.

“Aku udah nulis satu bab,” katanya waktu aku duduk di sebelahnya, tanpa kuminta. “Satu bab utuh, Dar. Pertama kali dalam dua tahun. Dan tahu nggak yang paling lucu? Begitu aku selesai nulisnya, aku malah takut. Karena selama aku belum selesai, aku masih punya alasan. Begitu selesai, aku harus jadi orang yang lulus. Aku harus jadi dewasa beneran. Dan aku nggak tahu caranya.”

Aku tidak bilang semua akan baik-baik saja. Aturan rumah ini melarang kebohongan yang gampang. Aku cuma bilang, “Kamu udah nulis satu bab. Dua minggu lalu kamu bahkan nggak berani buka filenya. Itu bukan nol, Jun.” Dia mengangguk, tidak benar-benar percaya, tapi cukup untuk menutup laptop dan masuk—bukan menyerah, cuma istirahat. Itu beda. Aku belajar membedakannya.

Aku duduk sebentar lebih lama di teras setelah Juno masuk, memandangi laptop dengan layar retak yang dia tinggalkan terbuka. Di pojoknya, kursor masih berkedip di akhir paragraf yang dia tulis, satu paragraf yang membuatnya takut justru karena ia bagus. Aku ingat Nenek pernah bilang, dengan caranya yang ngawur tapi selalu benar, bahwa yang paling menakutkan dari hidup bukan kegagalan, tapi kemungkinan kau ternyata bisa. Karena kalau kau gagal, kau punya alasan untuk berhenti. Kalau kau ternyata bisa, kau harus terus, dan terus itu menakutkan. Aku menutup laptop Juno pelan-pelan, supaya paragraf itu tidak hilang, supaya besok dia menemukannya masih ada, menunggu, sabar seperti rumah ini menunggu orang-orang yang belum siap pulang.

Tika sampai di dasarnya dengan cara yang lebih berisik. Video lama tentang konflik di rumah ini (yang dulu dia unggah lalu hapus) ternyata sudah disimpan orang dan diunggah ulang. Sekarang ia menyebar tanpa bisa dia kendalikan, dengan judul yang dipelintir, dengan kolom komentar yang penuh orang-orang yang merasa berhak menghakimi rumah yang tidak pernah mereka injak. Tika duduk di lantai kamarnya, ponsel terbalik supaya dia tidak melihat notifikasi, dan dia tidak ingin merekam apa pun.

“Dulu aku pikir viral itu artinya menang,” katanya, suaranya serak. “Sekarang aku viral, dan rasanya kayak ditelanjangin di tengah pasar. Bedanya, dulu aku yang ngelakuin itu ke Rara. Aku ngerti sekarang. Telat banget, tapi aku ngerti.”

Dia sudah pernah minta maaf ke Rara berminggu-minggu lalu, minta maaf yang tulus, yang pertama dalam hidupnya. Dan justru karena dia sudah pernah tumbuh sedikit, kehancuran hari ini terasa beda. Dia tidak hancur sebagai orang yang sama. Dia hancur sebagai orang yang sudah tahu bedanya menyakiti dan disakiti, dan itu membuat lukanya lebih dalam tapi juga lebih bersih.

Lihat selengkapnya