Laras datang pada jam yang salah untuk membawa kabar baik.
Pukul empat sore, langit Surabaya sedang berpikir mau hujan atau tidak, dan kami semua kebetulan ada di ruang tengah: Juno dengan laptopnya, Tika melipat cucian, Rara mengupas salak, Banyu memasang ulang gagang pintu yang longgar. Adegan paling biasa di dunia. Adegan yang, kalau aku tahu apa yang akan terjadi, akan kusimpan lebih lama di kepala sebelum semuanya berubah.
Ketukan di pintu datang sekali. Hanya sekali. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat bulu kudukku berdiri, karena orang-orang yang datang ke rumah ini dengan niat baik sudah belajar mengetuk dua kali. Satu ketukan adalah ketukan orang yang datang membawa urusan, bukan membawa diri.
Aku membuka pintu. Laras berdiri di sana, rapi seperti biasa, dengan map yang lebih tebal dari biasanya. Tidak ada basa-basi soal cuaca. “Saya perlu bicara dengan Anda,” katanya. Lalu matanya bergerak ke balik bahuku, ke ruang tengah yang penuh, dan sesuatu di wajahnya mengeras. “Sebenarnya, mungkin lebih baik kalau semua mendengar. Supaya tidak ada yang merasa dibohongi nanti.”
Dadaku jatuh sebelum dia mengeluarkan dokumen itu. Aku tahu. Tentu saja aku tahu.
“Bu Dara sudah menandatangani nota kesepahaman dengan klien kami,” kata Laras, suaranya datar, profesional, dan justru kedataran itu yang membuat setiap kata terdengar seperti vonis. “Tiga minggu lalu. Beserta penerimaan uang muka. Saya datang untuk mengantar dokumen tahap berikutnya, yang perlu beliau tanda tangani untuk melanjutkan proses pengosongan dan—”
“Pengosongan,” ulang Juno. Pelan. Seperti mencoba kata itu di mulutnya dan tidak suka rasanya.
Ruangan menjadi sangat sunyi. Aku dengar gerimis mulai turun di genteng yang dulu kami tambal bersama-sama.
Tika meletakkan cucian yang sedang dilipatnya. Rara berhenti mengupas salak, pisau kecil masih di tangannya. Banyu tidak menoleh; dia tetap menghadap gagang pintu yang sedang diperbaikinya, tapi tangannya berhenti bergerak, dan punggungnya yang biasanya santai jadi sebidang dinding.
“Dara,” kata Tika akhirnya, dan dia tidak marah, itu yang paling menyakitkan, dia cuma bingung, “ini nggak bener, kan? Dia salah orang, kan?”