Tidak ada yang mengusir mereka. Itu yang harus kujelaskan dulu, karena orang biasanya membayangkan keretakan rumah sebagai pintu yang dibanting dan koper yang diseret. Yang terjadi di rumah ini lebih pelan dari itu, dan justru karena pelan, lebih menyakitkan. Mereka tidak pergi karena marah. Mereka pergi karena tidak tahu lagi harus bagaimana tinggal di rumah yang ternyata sudah dijual oleh orang yang menulis aturan supaya mereka merasa aman.
Juno pergi pertama, dan dia pergi dengan sopan, yang membuatnya lebih buruk. Dia mengetuk pintu kamarku, dua kali, dan aku tahu dia sengaja melakukannya dua kali, seakan ingin mengingatkanku pada aturan yang kukhianati. “Aku numpang di tempat teman dulu, Dar,” katanya, ransel sudah di punggung, kardus berisi buku skripsi di tangan. “Bukan marah. Aku cuma… aku perlu tempat yang aku tahu pasti bakal ada bulan depan. Buat nyelesaiin skripsi. Aku nggak bisa nulis sambil mikirin kapan tembok kamarku dirobohin.”
Aku mengangguk. Apa lagi yang bisa kulakukan. Dia benar. Aku yang membuat lantai di bawah kakinya jadi tidak pasti. Sebelum pergi, dia berhenti di depan papan aturan dan membaca ulang yang nomor satu, lalu menatapku, dan tidak berkata apa-apa. Diamnya itu kalimat paling panjang yang pernah dia ucapkan padaku.
Tika pergi dua hari kemudian, dan dia pergi dengan ribut, tapi ributnya palsu, aku tahu. Dia mengemas pakaian sambil berbicara terlalu cepat tentang tawaran tinggal di apartemen seorang teman konten kreator, tentang “konten baru,” tentang “branding,” kata-kata yang dulu dia ucapkan dengan yakin dan sekarang dia ucapkan seperti orang yang sedang meyakinkan diri sendiri. Di pintu, topengnya retak sebentar. “Aku baru aja mulai suka di sini,” katanya, hampir berbisik. “Baru aja. Itu yang nggak aku maafin dari kamu, Dar. Bukan rumahnya. Tapi kamu bikin aku percaya ada tempat kayak gini, terus kamu jual diam-diam.” Lalu dia pergi, tanpa merekam kepergiannya sendiri.
Rara tidak ke mana-mana (dia tidak punya tempat lain) tapi dia pergi dengan caranya sendiri: dia berhenti keluar kamar. Makan di kamar, belajar di kamar, mengunci diri dengan diam yang dulu dia bawa waktu pertama datang. Aku kehilangan dia tanpa dia meninggalkan rumah. Itu jenis kepergian yang paling membuatku takut, karena aku tahu persis bentuknya. Aku pernah jadi anak yang mengunci diri di kamar sambil masih tinggal di rumah yang sama dengan orang-orang yang seharusnya menjagaku.
Aku berdiri sebentar di depan pintu kamarnya yang tertutup, mengangkat tangan untuk mengetuk, dua kali, seperti aturan, lalu menurunkannya lagi. Apa hak-ku mengetuk pintu orang lain dengan kalimat Nenek, ketika aku sendiri yang baru saja melanggar janji yang membuat kalimat itu berarti? Maka aku tidak mengetuk. Aku cuma meletakkan sepiring buah di depan pintunya, seperti yang dulu Nenek lakukan untukku di minggu-minggu pertama, ketika aku juga anak yang mengurung diri dan belum percaya rumah ini sungguhan. Besoknya piring itu kosong. Itu satu-satunya percakapan yang kami punya hari itu.
Dan Banyu. Banyu tidak pergi. Tapi Banyu berubah jadi sopan, dan kesopanannya adalah jarak. Dia masih memperbaiki yang rusak (keran, engsel, atap yang bocor di kamar mandi) tapi dia melakukannya pada jam-jam ketika aku tidak ada, seakan tidak ingin bertemu. Teh berhenti muncul di depanku tanpa diminta. Itu hal kecil. Tapi di rumah ini, teh yang tidak lagi muncul adalah seluruh bahasa yang hilang.
Aku pernah membaca bahwa orang yang paling marah adalah orang yang paling peduli, dan diam Banyu membuktikannya. Kalau dia tidak peduli, dia akan pergi, atau memakiku, atau menuntut penjelasan. Tapi dia tinggal, dan dia diam, dan dia memperbaiki rumah yang dia tahu mungkin akan dirobohkan, seakan menolak membiarkan satu pun engsel berkarat di rumah yang sedang sekarat. Diam yang seperti itu lebih sulit ditanggung daripada kemarahan, karena ia tidak memberimu apa pun untuk dilawan.
Maka jadilah aku, beberapa malam kemudian, sendirian di ruang tengah yang dulu penuh. Persis seperti malam pertama setelah pemakaman Nenek. Lingkaran penuh yang kejam: aku berakhir di titik yang sama dengan tempatku memulai, hanya saja kali ini aku tahu persis apa yang kuhilangkan, karena aku sempat memilikinya.