Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #26

Amplop dan Entri Terakhir

Lem itu lepas tanpa suara. Tidak ada robekan dramatis, tidak ada tangan gemetar yang merobek kertas dengan tergesa. Aku membukanya pelan, seperti orang yang sudah memutuskan bahwa apa pun isinya, dia akan membacanya sampai habis. Di dalam amplop ada dua lembar kertas. Yang satu surat, ditulis tangan Nenek. Yang satu lagi foto, foto yang sama dengan yang ada di kamar terkunci, bayi dengan wajah yang terkikis karena terlalu sering disentuh, tapi yang ini masih utuh. Wajahnya masih ada. Dan wajah itu, meski bayi, meski puluhan tahun lalu, adalah wajah yang kukenal. Aku pernah melihatnya di cermin.

Aku tidak menangis dulu. Aku malah jadi sangat tenang, dengan ketenangan aneh orang yang sedang menerima sesuatu yang terlalu besar untuk dirasakan sekaligus. Aku menaruh foto itu di meja, menghadap ke atas kali ini, dan aku mulai membaca surat Nenek.

Tulisannya goyah, tapi kalimatnya tidak.

“Untuk yang berikutnya membuka pintu ini,” begitu surat itu dimulai, persis seperti tulisan di amplop. “Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah menemukan kamar di ujung lorong, dan berarti kamu sudah cukup peduli untuk mencari kuncinya di belakang wajahku. Aku menyembunyikannya di sana karena aku ingin tahu satu hal: apakah kamu akan mengangkat wajahku untuk mencari, atau membiarkannya tergantung di dinding seperti orang yang sudah tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Kamu mengangkatnya. Itu sudah cukup memberitahuku siapa kamu.”

Aku berhenti. Aku menarik napas. Aku melanjutkan.

“Dara, ada hal yang tidak pernah kuceritakan, dan aku pengecut karena memilih menulisnya daripada mengucapkannya. Ibumu membawamu ke rumah ini ketika kamu masih merah, masih bau susu, di tahun yang berat untuknya. Dia tidak membuangmu. Aku tahu itu cerita yang lebih mudah kamu percaya (bahwa kamu dibuang, dititipkan, ditinggalkan dengan dingin) karena cerita itu memberimu alasan untuk tidak berharap pada siapa pun. Aku kenal cerita seperti itu. Aku pernah mengarang cerita yang sama tentang diriku sendiri, dulu, dan butuh sebagian besar hidupku untuk membongkarnya.”

Lihat selengkapnya