Kemarahan datang terlambat, dan itu jenis kemarahan yang paling sulit, karena tidak ada lagi orang yang bisa kau tujui.
Malam setelah aku membaca surat itu, aku tidak tidur sama sekali. Tapi anehnya, perasaan pertama yang datang setelah haru bukan damai. Bukan kelegaan karena akhirnya tahu aku diinginkan. Yang datang, beberapa jam kemudian, ketika langit sudah terang dan aku masih duduk di kursi Nenek dengan surat di pangkuan, adalah marah. Marah yang besar, panas, tidak adil, dan tidak punya sasaran.
Aku marah pada Nenek. Pada perempuan yang sudah meninggal, yang tidak bisa lagi kuteriaki, yang memilih menulis surat alih-alih mengucapkannya selagi dia masih bisa menggenggam tanganku. Kenapa kau tunggu sampai mati untuk bilang aku dipilih? Kenapa kau biarkan aku tumbuh dengan keyakinan bahwa aku cuma titipan, kalau kau tahu (kau yang paling tahu) itu bohong? Berapa banyak keputusan buruk yang kubuat karena percaya aku tidak berhak? Berapa kali aku tidak berani meminta, tidak berani berharap, tidak berani tinggal, karena kau menyimpan kebenaran ini di dalam kotak kayu di kamar yang kau kunci?
Aku marah pada ibuku. Pada perempuan yang mengetuk dua kali lalu pergi dan tidak pernah kembali. Surat Nenek bilang dia tidak membuangku, dia menyerahkanku karena cinta, karena tidak punya pilihan, tapi malam itu aku tidak sanggup mempercayai versi yang murah hati itu. Aku ingin marah. Aku berhak marah. Cinta macam apa yang menyerahkan bayinya lalu menghilang puluhan tahun? Penjelasan yang indah tidak menambal lubang yang ditinggalkan kepergian. Aku tidak butuh tahu kenapa dia pergi. Aku butuh dia tidak pergi. Dan tidak ada surat di dunia yang bisa memberiku itu sekarang.
Aku tahu, secara akal, bahwa kemarahan ini tidak sepenuhnya adil. Aku tahu ada versi cerita di mana ibuku adalah korban, bukan pelaku. Tapi akal dan luka tidak tinggal di kamar yang sama. Akal bilang maafkan; luka bilang aku menunggumu setiap ulang tahun sampai usia dua belas, lalu berhenti, karena berhenti lebih murah daripada terus berharap. Dan pagi itu luka yang bicara, dengan suara yang sudah puluhan tahun kupaksa diam, dan aku membiarkannya bicara karena aku tahu aku tidak akan dihukum karena merasakannya.
Aku berdiri, dan tanpa benar-benar memutuskannya, aku menyambar buku tamu dari meja dan hampir melemparkannya ke dinding. Hampir. Tanganku berhenti di udara. Bahkan dalam marah, aku tidak bisa merusak satu-satunya benda yang membuktikan aku pernah dicatat, pernah ada, pernah ditulis dengan tangan yang menyayangiku. Aku meletakkannya kembali, dan justru ketidakmampuanku untuk merusaknya membuatku makin marah, karena artinya aku bahkan tidak diizinkan untuk marah dengan benar.
Itulah saat Banyu masuk.
Dia pasti mendengar sesuatu, langkah kakiku yang keras, atau buku yang nyaris membentur dinding. Dia berdiri di ambang ruang tengah dengan rambut masih berantakan bekas tidur, dan dia melihat aku: mata bengkak, surat di meja, foto bayi menghadap ke atas, kotak kayu terbuka. Dia tidak butuh penjelasan. Lelaki itu selalu bisa membaca ruangan dalam dua detik.
“Kamu udah baca,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Kamu tahu?” Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumau. “Kamu tahu soal ini? Soal kamar itu, soal,” aku menunjuk surat itu seakan ia bisa terbakar, “soal aku?”