Di dasar kotak kayu, di bawah surat dan foto, ada satu benda lagi yang awalnya kukira cuma alas: selembar kertas tua yang dilipat berkali-kali sampai garis lipatannya hampir robek. Aku baru menemukannya tiga hari kemudian, ketika aku akhirnya cukup tenang untuk mengosongkan kotak itu sampai ke dasarnya. Kertas itu bukan surat untukku. Itu surat untuk Nenek. Tulisan tangannya berbeda, lebih tegas, lebih tua, tinta yang sudah memudar jadi cokelat.
Dan di situlah, akhirnya, aku menemukan dari mana kalimat di kusen pintu itu berasal.
Selama ini aku mengira “ketuk dua kali kalau berantakan” adalah kalimat buatan Nenek sendiri, semacam filosofi rumah yang dia karang untuk para penumpangnya. Aturan nomor sekian yang manis tapi sepele. Aku salah. Kalimat itu bukan milik Nenek. Kalimat itu warisan dari seseorang yang Nenek tolak, puluhan tahun lalu, dan tidak pernah berhenti dia sesali.
Surat itu pendek. Aku membacanya berkali-kali sampai hafal.
“Sulastri,” begitu surat itu dimulai, nama kecil Nenek, nama yang hampir tidak pernah kudengar orang ucapkan. “Aku ngerti kenapa kamu nggak bisa nerima aku malam itu. Rumahmu penuh, dan aku datang terlalu larut, dan kamu punya alasan untuk takut sama orang yang ngetuk pintu tengah malam dengan muka sepertiku. Aku nggak nyalahin kamu. Tapi aku mau ninggalin satu hal buat kamu, karena kamu satu-satunya orang yang hampir buka pintu untukku.
Di kampungku dulu, kalau ada orang ngetuk pintu sekali, itu tamu. Kalau ngetuk dua kali, itu tanda dia lagi susah (lagi berantakan hidupnya) dan dua ketukan itu artinya ‘aku nggak minta banyak, aku cuma butuh tempat sampai aku bisa beresin diriku sendiri.’ Orang-orang tua kami ngajarin: pintu boleh dijaga, tapi kalau denger ketukan kedua, pikir dua kali sebelum nolak. Karena kamu nggak pernah tahu mana ketukan kedua yang, kalau kamu tolak, nggak bakal pernah ngetuk di pintu mana pun lagi.
Aku ngetuk dua kali, Sulastri. Kamu denger. Aku tahu kamu denger, karena aku lihat lampu kamarmu nyala. Aku ngerti kenapa kamu nggak buka. Tapi aku mau kamu inget ketukan kedua itu, supaya lain kali, buat orang lain, mungkin kamu buka. Itu aja. Itu satu-satunya yang bisa kutinggalin buat orang yang hampir baik sama aku.”