Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #29

Laras dan Warisan yang Lain

Laras datang lagi, dan kali ini dia datang tanpa map.

Itulah yang langsung kusadari. Selama berminggu-minggu, Laras selalu muncul dengan map cokelat yang sama, pena yang menggantung di saku jas, dan tatapan yang membaca rumah ini seperti membaca daftar aset yang akan dilikuidasi. Surveyor. Mata yang mengukur, bukan mata yang melihat. Tapi pagi itu dia berdiri di depan pintu tanpa map, tanpa pena, tangan kosong, dan dia tampak seperti orang biasa, bukan utusan developer, cuma seorang perempuan yang berdiri di gang sempit dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

“Boleh masuk?” tanyanya. Dia tidak pernah meminta izin sebelumnya. Dia selalu masuk seperti orang yang sudah memiliki tempat itu di atas kertas.

Aku membuka pintu lebih lebar. Entah kenapa, mungkin karena surat tua di kotak kayu masih segar di kepalaku, aku tidak bisa menolak siapa pun yang berdiri di ambang pintu itu hari itu.

Dia masuk pelan, dan matanya langsung jatuh ke papan aturan di dinding. Bukan menghitung. Membaca. Lama. Terlalu lama untuk seseorang yang katanya sudah berkali-kali ke sini untuk urusan teknis. Lalu matanya bergeser ke kusen pintu, ke tulisan tangan pudar di sana (ketuk dua kali kalau berantakan) dan sesuatu di wajahnya berubah. Retak halus, seperti kaca yang baru disentuh ujung paku.

“Ibu saya yang nulis kalimat itu,” kata Laras pelan.

Seluruh ruangan seperti kehilangan udara.

Aku menatapnya. “Apa?”

Dia tidak menjawab langsung. Dia berjalan mendekati kusen, mengangkat tangan, dan menyentuh tulisan itu dengan ujung jari, persis seperti yang kulakukan beberapa malam lalu. Gerakan yang sama. Seakan kami berdua sedang menyentuh sesuatu yang sama-sama kami miliki dengan cara yang berbeda.

“Waktu aku kecil,” katanya, suaranya datar tapi rapuh, “ibu sering cerita soal satu malam. Dia lagi hamil besar (hamil aku) waktu dia kabur dari rumah yang nggak aman, hujan-hujan, nyari tempat. Dia inget satu rumah di gang sempit yang katanya orang-orang bilang selalu nerima siapa aja. Dia ketuk. Dua kali, karena katanya begitu cara dari kampungnya buat ngasih tahu kalau dia lagi susah. Dia lihat lampu nyala. Tapi pintunya nggak dibuka.”

Lihat selengkapnya