Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #30

Keluarga Besar dan Rahasia yang Mereka Jaga

Keluarga besar berkumpul lagi, dan kali ini bukan aku yang memanggil mereka. Mbah Hadi yang mengatur. Dia menelepon satu per satu (Mbah Ratna, Mbah Tomo, beberapa sepupu yang bahkan tidak kukenal namanya) dan mengundang mereka ke rumah “untuk membereskan urusan penjualan sebelum tenggat developer habis.” Bagi mereka, urusannya sederhana: aku sudah menandatangani MoU, uang muka sudah cair, tinggal mengeksekusi. Yang tidak mereka tahu adalah aku sudah memutuskan untuk membatalkannya.

Mereka datang dengan wajah orang yang merasa sudah menang. Mbah Ratna membawa kue, seakan ini perayaan. Mbah Tomo membawa map (map lain, bukan map Laras) berisi rincian pembagian uang hasil penjualan. Mereka duduk di ruang tengah yang sama tempat aku dulu mengaku soal MoU, tempat Laras menangis pagi tadi, tempat puluhan orang asing pernah duduk selama puluhan tahun. Dan mereka mulai berbicara tentang angka.

“Setelah dipotong penalti pembatalan kontrak lama dan komisi, bersihnya sekian,” kata Mbah Tomo, jari mengetuk kalkulator. “Dibagi sesuai bagian masing-masing ahli waris—”

“Aku batalin penjualannya,” kataku.

Kalkulator berhenti. Ruangan hening. Mbah Ratna meletakkan piring kuenya pelan-pelan, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang dia harap salah dengar.

“Apa?”

“Aku batalin,” ulangku, dan kali ini suaraku tidak gemetar. “Rumah ini nggak dijual. Aku tahu itu artinya penalti, aku tahu uang mukanya udah sebagian kepakai, aku tahu kalian marah. Tapi aku nggak akan jual rumah ini.”

Lalu pecahlah yang sudah kuduga akan pecah. Mbah Hadi naik suara soal “kesepakatan yang sudah bulat,” soal “kamu masih terlalu muda untuk ngerti nilai uang segini,” soal “Nenekmu pasti pengin kami semua kebagian.” Mbah Ratna kembali ke senjata lamanya, kalimat yang dulu hampir meruntuhkanku: “Kamu lupa ya, kamu itu siapa? Kamu bukan siapa-siapa kalau bukan karena rumah ini. Sekarang kamu mau ngatur-ngatur kami yang darah daging Nenekmu?”

Dan di situlah keajaibannya. Kalimat itu, yang dulu membuatku menciut, hari ini tidak menyentuhku sama sekali. Karena aku tahu kelanjutannya sekarang. Aku tahu kalimat di buku tamu. Dititipkan, tapi tidak akan pernah kuanggap titipan. Aku tahu aku dipilih, bukan ditampung. Mbah Ratna sedang melempar batu yang sudah tidak ada di sakuku lagi.

Lihat selengkapnya