Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #31

Membatalkan yang Sudah Ditandatangani

Kantor developer itu dingin dengan cara yang disengaja. AC terlalu kencang, lantai marmer terlalu mengkilap, dan resepsionis tersenyum dengan senyum yang sudah dilatih untuk tidak berarti apa-apa. Aku datang sendirian, bukan karena tidak ada yang menawarkan ikut, tapi karena aku merasa pembatalan ini adalah tanda tanganku yang harus kuhapus dengan tanganku sendiri.

Laras sudah memberiku gambaran semalam, di ruang tengah rumah Nenek, dengan map yang akhirnya dia buka bukan untuk mengukur apa pun. “Klausul pembatalan sepihak,” katanya, jarinya menunjuk satu paragraf yang dicetak kecil-kecil seperti memang dirancang agar tidak dibaca. “Kalau kamu mundur sebelum akad penuh, kamu kehilangan seluruh uang muka. Dan ada penalti. Besar. Mereka nyebutnya ‘biaya kesempatan dan biaya persiapan proyek.’ Artinya: mereka udah keluar duit buat ngurus izin, gambar, survei (survei yang aku kerjain), dan kamu harus ganti semuanya.”

Aku tahu angkanya. Aku sudah menghitungnya berkali-kali sampai angka itu kehilangan bentuk dan jadi sekadar deretan nol yang menertawakanku. Uang muka sudah sebagian terpakai: untuk melunasi utang Nenek di rumah sakit, untuk menambal kebocoran atap, untuk biaya hidup beberapa bulan terakhir ketika aku terlalu hancur untuk bekerja. Yang tersisa tidak cukup untuk mengembalikan uang muka, apalagi membayar penalti. Membatalkan MoU ini bukan sekadar berkata “tidak.” Membatalkan berarti berutang.

Aku sudah menghabiskan tiga malam terakhir dengan kalkulator di tangan, menyusun ulang angka-angka yang sama dengan cara berbeda, seakan kalau aku memindahkannya cukup sering hasilnya akan berubah. Tidak pernah berubah. Aku menjumlahkan sisa tabungan, menaksir berapa yang bisa kupinjam, membayangkan menjual barang-barang Nenek yang masih bernilai, dan setiap kali, angka yang kudapat berhenti jauh di bawah angka yang kubutuhkan. Ada momen, sekitar pukul tiga pagi, ketika aku hampir menyerah. Hampir menelepon developer dan berkata aku berubah pikiran, biarkan saja rumah ini dijual, ambil uangnya, selesai. Yang menghentikanku bukan keberanian. Cuma satu pikiran sederhana: kalau aku menyerah sekarang, aku akan jadi orang yang setiap malam, seumur hidup, terbangun pukul tiga pagi memikirkan rumah yang kubiarkan roboh.

Lelaki di seberang meja (manajer akuisisi lahan, kartu namanya bilang begitu) mendengarkanku dengan kesabaran seseorang yang sudah tahu kartunya lebih baik. “Kami menghargai keputusan Anda,” katanya, padahal tidak ada penghargaan sama sekali di suaranya. “Tapi kontrak adalah kontrak, Mbak Dara. Anda menandatangani dengan sadar. Pembatalan di titik ini,” dia menggeser selembar kertas ke arahku, angka tercetak tebal di bawah, “akan dikenakan kewajiban sebesar ini. Harus lunas dalam tiga puluh hari sejak pembatalan resmi.”

Aku menatap angka itu. Untuk sesaat seluruh tekadku yang kubangun semalam terasa konyol. Apa hak seorang perempuan tanpa pekerjaan tetap, dengan rekening hampir kosong, untuk menyelamatkan sebuah rumah tua di gang sempit? Mungkin keluarga benar. Mungkin yang dewasa adalah menjual, mengambil sisa uang, dan membiarkan rumah itu jadi kenangan yang bersih, tanpa utang.

Lalu aku teringat kalimat di kertas pudar yang nenek tempel di pintu. Aku teringat surat ibunya Laras. Aku teringat Nenek yang menghabiskan seumur hidup membayar utang yang tidak berbentuk angka. Dan aku sadar: kalau aku mundur sekarang karena takut pada deretan nol, aku tidak lebih baik dari Nenek di malam dia tidak membuka pintu. Aku akan menghabiskan sisa hidupku membayar penyesalan yang jauh lebih mahal daripada penalti mana pun.

Aneh rasanya, betapa jernih sebuah keputusan terasa begitu kamu berhenti menghitungnya dengan uang. Sepanjang hidupku aku mengukur nilai diriku dengan angka: berapa yang kupunya, berapa yang kuutang, berapa yang kurang. Malam-malam terakhir mengajariku ada hal yang tidak masuk ke dalam kolom mana pun di buku kas. Rumah itu salah satunya. Kalau aku menjualnya, neraca keuanganku akan terlihat jauh lebih sehat, dan aku akan kehilangan satu-satunya tempat di dunia yang pernah memutuskan, tanpa syarat, bahwa aku layak diterima. Itu bukan transaksi yang menguntungkan. Itu transaksi yang membuat seseorang bangkrut dengan cara yang tidak terlihat di rekening.

Lihat selengkapnya