Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #32

Rumah yang Membayar Sendiri

Tiga puluh hari. Itu yang kami punya, dan ketika aku mengucapkannya keras-keras di ruang tengah malam itu (angka penalti, tempo pembayaran, ancaman penyitaan) aku setengah berharap orang-orang akan tersadar bahwa ini mustahil dan pelan-pelan pamit. Tidak ada yang pamit. Yang terjadi justru sebaliknya: satu per satu, mereka kembali.

Tika datang lebih dulu, keesokan paginya, dengan ransel dan tripod dan mata yang masih bengkak entah karena kurang tidur atau karena menangis. “Aku denger dari Banyu,” katanya, langsung, tanpa basa-basi. “Kamu batalin penjualannya. Dan sekarang kamu utang.” Dia menurunkan ranselnya di lantai dengan bunyi berat. “Aku marah sama kamu soal MoU itu. Beneran marah. Tapi aku lebih marah sama diriku sendiri yang pergi waktu kamu lagi paling butuh. Jadi aku balik. Dan aku bawa satu-satunya yang aku punya.” Dia mengangkat kameranya.

Aku mengira dia akan membuat konten dramatis: air mata, musik sedih, kisah gadis malang dan rumah yang akan disita. Aku salah. Tika justru melakukan kebalikannya. “Aku nggak akan jual kesedihan kamu,” katanya. “Orang udah bosen sama cerita sedih. Aku bakal ceritain yang sebenernya: rumah yang udah puluhan tahun nampung orang asing, sekarang gantian butuh ditolong. Jujur. Apa adanya. Nggak ada yang dibikin-bikin.” Dan dia mulai merekam, bukan aku yang menangis, tapi rumahnya: papan aturan, buku tamu, daun pintu dengan kertas pudar Nenek, dapur tempat puluhan orang pernah makan gratis. Dia menceritakan sejarahnya. Dia membaca beberapa entri buku tamu di depan kamera, suara-suara orang yang dulu ditampung, terima kasih yang ditulis tangan puluhan tahun lalu.

Video pertama tembus ratusan ribu tayangan dalam dua hari. Bukan karena iba. Karena orang mengenali sesuatu di rumah itu yang sudah lama hilang dari kota: tempat yang menerima tanpa bertanya. Kolom komentar penuh orang yang bercerita tentang rumah-rumah serupa di hidup mereka, nenek-nenek serupa, pintu-pintu yang dulu terbuka untuk mereka. Dan di antara cerita-cerita itu, mulai berdatangan sesuatu yang tidak kuduga: tautan donasi yang dibagikan orang, transfer kecil-kecil dari nama-nama yang tidak kukenal, pesan “dulu aku juga pernah ditolong rumah kayak gini.”

Tapi Tika tidak sendirian. Juno datang dua hari kemudian, masih dengan tas berisi buku skripsi yang tidak kunjung selesai, tapi kali ini matanya berbeda. “Aku baca surat pembatalan kamu,” katanya, membentangkan dokumen di meja. “Aku mahasiswa abadi, oke, tapi aku mahasiswa hukum. Tujuh tahun. Cukup lama buat tahu satu hal: klausul penalti ini kegedean. Ini namanya klausul yang memberatkan sepihak. Ada dasar buat nego, bahkan buat gugat kalau perlu.” Kali itu Juno tidak menunda apa pun. Dia menghabiskan malam-malam berikutnya membaca kontrak kata demi kata, menelepon dosennya, menyusun surat keberatan resmi yang membuat manajer akuisisi lahan itu, akhirnya, tidak lagi tersenyum dengan senyum yang dilatih.

Banyu mengerjakan bagian yang paling tidak terlihat tapi paling nyata. Dia memanggil teman-teman tukangnya, dan bersama-sama mereka memperbaiki rumah itu, bukan untuk dijual, tapi untuk dijadikan bisa menghasilkan. Kamar-kamar kosong yang dulu ditinggal penghuni dirapikan, dicat ulang, dibuat layak disewakan dengan harga jujur. “Rumah ini nggak pernah minta dibayar dari orang yang tinggal di dalamnya,” kata Banyu, sambil membersihkan daun pintu dengan hati-hati supaya kertas tulisan Nenek tidak ikut terkelupas. “Tapi nggak ada salahnya rumah ini akhirnya bisa nutupin biayanya sendiri. Itu beda sama dijual. Dijual itu mati. Disewain itu tetap hidup, cuma sekarang dia napas sendiri.”

Dan Rara, Rara yang dulu kabur dari rumahnya sendiri, yang paling muda di antara kami, melakukan hal yang paling tidak kusangka. Dia pulang. Bukan untuk selamanya, tapi untuk satu percakapan yang sudah lama dia hindari. Dia menceritakan rumah ini pada ibunya, perempuan yang ternyata pernah menumpang di rumah Nenek bertahun-tahun lalu, di masa yang Rara sendiri tidak tahu. Ibunya datang. Berdiri di ruang tengah yang sama. Menangis melihat papan aturan yang masih sama persis. Dan ibunya membawa lebih dari air mata—dia membawa jaringan orang-orang yang dulu juga pernah ditampung, satu generasi penuh yang berutang budi pada Bu Sulastri dan tidak pernah punya cara untuk membalasnya. Sampai sekarang.

Lihat selengkapnya