Laras datang ke rumah pada sore yang ganjil—langit Surabaya berwarna jingga kotor, seperti tembaga yang lama tidak dibersihkan, dan dia berdiri di depan pintu tanpa mengetuk untuk waktu yang cukup lama sampai aku yang akhirnya membukanya. Di tangannya, map cokelat yang sudah kukenal terlalu baik. Map yang dulu berisi ukuran-ukuran rumah ini, gambar denah pembongkaran, foto-foto yang diambil diam-diam untuk kepentingan developer. Map yang, selama berbulan-bulan, adalah wujud paling nyata dari ancaman terhadap rumah Nenek.
“Aku mau ngomong,” katanya. “Tapi nggak di depan pintu.”
Aku mempersilakannya masuk. Dia melangkah dengan hati-hati, seperti orang yang tahu dia pernah datang ke tempat ini sebagai musuh dan belum yakin apakah lantainya masih mau menahan beratnya. Aku membawanya ke ruang tengah, tempat papan aturan rumah tergantung di dinding, tempat buku tamu terbuka di meja. Dia berhenti di depan papan itu lama sekali, membaca setiap baris yang ditulis tangan Nenek puluhan tahun lalu.
“Aku udah mundur dari proyek,” katanya akhirnya, tanpa menoleh. “Resmi. Aku kirim surat pengunduran diri ke perusahaan survei tiga hari lalu. Mereka marah. Bilang aku nggak profesional, bilang aku ngerusak reputasi. Mungkin bener.” Dia berbalik menghadapku. “Tapi aku nggak bisa terus jadi orang yang ngukur-ngukur rumah buat dirobohin, sementara aku tahu rumah ini,” suaranya tersangkut sebentar, “rumah ini yang dulu nolak Ibu.”
Aku diam. Karena inilah yang sudah lama tidak terucap di antara kami, sejak malam aku menemukan inisial pudar di buku tamu dan Laras menceritakan tentang ibunya—perempuan yang, di satu malam hujan puluhan tahun lalu, datang mengetuk pintu rumah ini dan tidak dibukakan. Bukan oleh Nenek yang kukenal. Oleh Nenek di satu malam ketika ketakutan menang atas kebaikan, satu-satunya malam, kata Banyu, yang Nenek sesali sampai mati.
“Aku dateng ke sini pertama kali,” kata Laras, “setengah buat kerja, setengah buat… entahlah. Buat lihat rumah yang nolak Ibu. Buat benci sesuatu yang konkret. Lebih gampang benci rumah daripada benci nasib, kan.” Dia tertawa kecil, getir. “Terus aku malah nemu rumah yang isinya orang-orang kayak Ibu. Orang-orang yang nggak punya tempat, terus ditampung. Aku dateng buat benci, malah nemu bukti bahwa nenek kamu menghabiskan sisa hidupnya minta maaf sama satu pintu yang dulu dia tutup.”
Dia meletakkan map cokelat itu di meja, di sebelah buku tamu. Dua dokumen bersebelahan: satu yang ingin menghapus rumah ini, satu yang merekam semua orang yang pernah rumah ini selamatkan. Lalu, pelan-pelan, Laras membuka map itu—bukan untuk mengeluarkan gambar denah, tapi untuk mengambil semua isinya sekaligus: lembaran ukuran, foto, denah pembongkaran. Dia menumpuknya rapi.