Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #34

Aturan yang Tidak Pernah Ditulis

Penalti sudah lunas. Surat pelepasan dari developer sudah datang, dicap, ditandatangani, disimpan di laci yang sama tempat dulu kusimpan surat penjualan yang kubatalkan. Rumah ini aman, benar-benar aman, akhirnya, sejak Nenek meninggal. Dan justru di hari-hari setelah ancaman itu hilang, aku mendapati diriku duduk berlama-lama di depan papan aturan rumah, membacanya berulang-ulang, mencoba memahami sesuatu yang selama ini luput.

Ada dua belas aturan di papan itu, ditulis dengan tangan-tangan yang berbeda dan tinta yang warnanya tidak sama, ditambahkan satu per satu, sepanjang waktu yang jauh lebih panjang dari yang aku ada di sini. Aku membacanya dari awal, satu per satu, seperti membaca sejarah rumah ini yang tidak pernah ditulis di tempat lain:

  1. Bayar seikhlasnya, tapi ikhlas yang wajar, bukan ikhlas yang nol.
  2. Boleh merasa hancur, tapi piring bekas makan tetap dicuci sendiri.
  3. Air mata gratis, listrik patungan. Curhat lewat jam sebelas malam: tarif lembur.
  4. Jangan nangis di teras — tetangga suka salah paham.
  5. Dilarang bilang "cuma sebentar" kalau ujungnya nginep tiga hari.
  6. Skripsi tidak akan selesai hanya karena laptop dibuka. Tapi tidak akan pernah selesai kalau laptopnya tidak pernah dibuka.
  7. Galau boleh, tapi jangan galau di depan kulkas terbuka, listrik patungan.
  8. Healing boleh, asal jangan lupa nyapu.
  9. Konten boleh. Consent wajib.
  10. Boleh galau sepanjang hari, tapi sampah tetap dibuang sebelum tidur.
  11. Ada yang lebih bagus kalau cuma kita yang tahu.
  12. Pintu yang pernah tertutup boleh dibuka lagi. Tidak ada yang terlambat untuk pulang.

Dua belas aturan. Dua belas baris dari tangan-tangan yang berbeda: beberapa jelas milik orang-orang lama yang tidak kukenal namanya, beberapa aku tahu milik siapa. Juno dengan tulisan berantakannya. Tika dengan huruf bulat penuh tenaga. Banyu dengan baris pendek yang selalu tepat. Dan baris terakhir, tulisan yang lebih baru dari semua, milik Laras. Aturan-aturan itu bukan daftar larangan. Mereka lebih seperti bukti hidup: bahwa rumah ini pernah ada isinya, pernah diisi orang-orang yang datang patah dan pergi lebih utuh, yang meninggalkan satu baris kecil di papan ini sebagai tanda bahwa mereka pernah di sini.

Baru sekarang aku mengerti kenapa nomornya bisa sampai sebelas sebelum tiba di baris Laras, karena ada aturan-aturan yang ditulis di hari-hari biasa, di antara bab-bab kehidupan yang tidak sempat kucatat, oleh orang-orang yang tinggal cukup lama untuk merasakan perlu menambahkan satu baris. Papan ini bukan yang kubuat di Bab 7 dengan spidol hitam dan niat mengatur segalanya. Papan ini sudah hidup sendiri, jauh sebelum dan sesudah aku. Aku sudah membacanya ratusan kali. Tapi sore itu, aku baru menyadari bahwa aturan yang paling penting di rumah ini justru tidak ada di papan itu.

Aku memikirkan semua yang sudah terjadi. Banyu yang menyimpan kartu nama Nenek bertahun-tahun dan datang tanpa diminta. Tika yang pergi karena marah lalu kembali membawa kameranya. Juno yang menunda hidupnya tujuh tahun tapi tidak menunda sedetik pun ketika rumah ini butuh seorang yang mengerti hukum. Rara yang kabur dari rumahnya sendiri tapi pulang demi rumah orang lain. Laras yang datang untuk membenci dan tinggal untuk menyelamatkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang ditanya dari mana mereka datang sebelum diterima. Tidak ada satu pun yang harus membuktikan diri layak sebelum diberi tempat di meja makan.

Itulah aturannya. Aturan yang tidak pernah ditulis karena Nenek tidak pernah menganggapnya aturan; dia menganggapnya sebagai cara hidup yang sudah jelas, sesuatu yang tidak perlu dieja. Terima dulu, tanya belakangan. Atau lebih tepat: terima, dan jangan pernah merasa berhak bertanya. Buka pintu sebelum kamu tahu siapa yang mengetuk. Beri tempat sebelum kamu tahu apakah orang itu pantas. Percaya dulu bahwa setiap orang yang datang mengetuk membawa kelelahan yang tidak terlihat, dan biarkan rumahmu jadi tempat di mana kelelahan itu boleh diletakkan tanpa penjelasan.

Lihat selengkapnya