Ketuk Dua Kali Kalau Berantakan

Bianda S.
Chapter #35

Satu per Satu Pamit dengan Cara Berbeda

Musim berganti tanpa pengumuman, seperti biasanya di kota ini: hujan yang dulu menggenangi gang depan rumah berhenti pelan-pelan, dan udara jadi kering, berdebu, terang. Rumah Nenek sudah aman sekarang, sudah punya napasnya sendiri lewat kamar-kamar yang disewakan dengan harga jujur, dan itu artinya orang-orang yang berkumpul untuk menyelamatkannya tidak lagi punya alasan darurat untuk tinggal. Aku pikir aku akan takut pada bagian ini. Ternyata yang kurasakan lebih dekat ke rasa syukur yang sedikit perih: melihat mereka pergi bukan karena rumah ini gagal, tapi justru karena rumah ini berhasil mengembalikan mereka ke hidup masing-masing.

Juno pergi pertama, dan dia pergi dengan cara yang paling tidak kusangka: dia lulus. Tujuh tahun, dan skripsi yang jadi lelucon abadi di antara kami akhirnya selesai, didorong, anehnya, oleh surat keberatan yang dia susun untuk melawan developer. “Ternyata aku bisa nulis hukum kalau ada yang benar-benar aku peduliin,” katanya, sambil menunjukkan undangan wisuda dengan tangan yang masih tidak percaya. “Bukan teori. Bukan kasus rekaan di buku. Rumah kamu. Itu yang akhirnya bikin aku selesai.” Dia pamit dengan janji akan jadi pengacara yang membela orang-orang yang tidak punya siapa-siapa: “klien kayak kamu dulu,” katanya, “yang dipojokin sama kontrak yang nggak mereka ngerti.” Aku memeluknya di depan pintu, dan kali ini Juno tidak menunda apa pun, bahkan tidak menunda kepergiannya. Dia melangkah ke depan, akhirnya, setelah tujuh tahun berputar di tempat.

Malam sebelum Juno pergi, kami begadang di ruang tengah seperti dulu, tapi kali ini tidak ada ancaman yang harus dilawan, tidak ada surat yang harus disusun semalaman. Dia bercerita tentang ketakutannya yang paling jujur: bukan takut gagal, tapi takut bahwa selama ini dia menunda kelulusan justru karena lulus berarti harus benar-benar hidup, harus berhenti bersembunyi di balik status mahasiswa abadi. “Rumah ini ngajarin aku bahwa nunda itu juga sejenis ngunci pintu,” katanya pelan. “Aku ngunci masa depan aku sendiri di luar, terus pura-pura aku nggak punya kuncinya.” Aku tidak menjawab; aku cuma mendengarkan, karena aku tahu persis rasanya. Aku juga pernah mengunci begitu banyak hal di luar diriku sendiri. Pagi harinya dia berangkat dengan satu koper dan satu map berisi ijazah yang baru, dan rumah ini terasa sedikit lebih sepi, tapi sepi yang benar, sepi yang berarti seseorang sudah cukup pulih untuk pergi.

Rara pergi berikutnya, dan dia pergi dengan kepala yang tegak, bukan kabur seperti waktu dia datang. Ibunya menjemputnya. Mereka berdiri di ruang tengah, ibu dan anak yang sama-sama pernah berlindung di rumah ini di dua generasi berbeda, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara. Lalu Rara berkata, “Aku mau pulang. Beneran pulang kali ini. Bukan kabur ke tempat lain.” Dia menatapku. “Kamu yang ngajarin aku bedanya. Rumah ini. Aku dulu pikir pulang itu..." dia berhenti, matanya ke lantai. "Ya udah, nyerah aja. Tapi ternyata,” dia menggeleng kecil, “beda. Pulang itu milih. Aku baru ngerti sekarang.” Ibunya menulis sesuatu di buku tamu sebelum pergi: entri kedua dari keluarga yang sama, puluhan tahun setelah yang pertama. Aku tidak membacanya sampai mereka pergi. Cuma satu baris: “Terima kasih sudah membuka pintu untuk anakku, seperti dulu untukku.”

Tika tinggal paling lama, tapi pada akhirnya dia juga harus pergi: tawaran kerja di sebuah rumah produksi, sesuatu yang dulu cuma dia impikan sambil merekam video receh di kamar kos. Sebelum berangkat, dia melakukan sesuatu yang membuatku menangis: dia mencetak foto. Bukan menyimpannya di cloud, bukan mengunggahnya, bukan menjadikannya konten. Dia mencetak puluhan foto rumah ini (papan aturan, buku tamu, dapur, wajah kami semua) dan menjilidnya jadi album fisik yang dia tinggalkan di meja ruang tengah. “Buat jaga-jaga,” katanya. “Internet bisa hilang. Tapi ini,” dia menepuk album itu, “ini tetap ada walaupun listrik mati, walaupun aku lupa password. Rumah ini ngajarin aku bedanya antara nyimpen sesuatu dan punya sesuatu.” Di pintu, baru mau melangkah keluar, dia berbalik. "Eh, satu hal. Kalau ada konten kreator baru minta ngekos di sini dan bilang mau ngedokumentasiin kehidupan autentik, tolak. Trust me.” Dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku tahu betul tipenya."

Aku tertawa. Tawa pertama yang benar-benar terasa seperti tawa dalam waktu lama.

Lihat selengkapnya