Setahun berlalu, dan rumah Nenek tidak lagi sekadar bertahan; ia hidup. Begini bentuknya sekarang: tiga kamar disewakan dengan harga yang masuk akal kepada orang-orang yang membutuhkannya, dan satu kamar (kamar paling belakang, yang paling tenang) selalu kosong. Sengaja. Itu kamar untuk siapa pun yang datang mengetuk tanpa membawa apa-apa, tanpa uang sewa, tanpa rencana, cuma kelelahan dan harapan tipis bahwa di suatu tempat di kota yang keras ini masih ada pintu yang mau membuka. Kamar itu tidak pernah lama kosong. Selalu ada yang datang. Selalu.
Aku tidak lagi menyebutnya rumah penampungan, dan tidak juga rumah kos. Ada sesuatu yang terlalu sempit pada kedua kata itu, sesuatu yang tidak menangkap apa yang sebenarnya terjadi di sini setiap hari. Banyu yang menemukan kata yang paling pas, suatu sore, sambil memperbaiki engsel pintu yang berderit: “Ruang singgah,” katanya. “Tempat orang berhenti sebentar di tengah perjalanan yang berat, ngumpulin napas, terus jalan lagi.” Aku suka itu. Ruang singgah. Bukan tujuan akhir, bukan tempat orang terjebak. Tempat orang berhenti, dipulihkan, lalu dilepas, persis seperti yang Nenek lakukan selama empat dekade tanpa pernah memberinya nama.
Buku tamu sudah berganti ke jilid yang baru; yang lama kusimpan di lemari kaca, terlalu berharga untuk dipakai sehari-hari. Papan aturan masih di tempatnya, dengan dua baris tambahan (milik Laras dan milikku) di bawah dua belas baris Nenek. Kadang ada penghuni baru yang membaca papan itu lama-lama, lalu bertanya siapa yang menulis baris terakhir. Aku selalu menjawab sama: “Seseorang yang akhirnya mengerti.”
Laras masih datang setiap beberapa minggu. Dia membawa makanan, kadang membawa pekerjaan; dia sekarang bekerja di lembaga yang membantu warga melawan penggusuran sewenang-wenang, mengubah pengetahuannya tentang cara developer bekerja menjadi senjata bagi orang-orang yang dulu jadi sasaran. Dia bilang, suatu hari, bahwa rumah ini menyembuhkan sesuatu di dalam dirinya yang dia bahkan tidak tahu masih luka. “Aku pikir aku ke sini buat nyelesaiin urusan Ibu,” katanya, sambil mengaduk teh. “Ternyata aku yang diselesaiin. Aku berhenti jadi anak dari perempuan yang ditolak. Aku jadi orang yang sekarang bantu buka pintu buat orang lain.” Aku mengerti maksudnya lebih dari yang bisa kuucapkan. Kami berdua, dengan cara yang berbeda, datang ke rumah ini membawa warisan yang terasa seperti beban, dan rumah ini, pelan-pelan, mengubah beban itu jadi sesuatu yang bisa kami berikan ke orang lain. Setiap kali dia datang, dan setiap kali dia pergi, dia mengetuk daun pintu itu dua kali. Sudah jadi kebiasaan di antara kami semua sekarang. Banyu melakukannya. Pak Darto melakukannya. Bahkan penghuni-penghuni baru, setelah cukup lama tinggal, mulai melakukannya tanpa benar-benar tahu dari mana asalnya—mereka cuma melihat orang lain melakukannya dan ikut, seperti cara kebiasaan baik menyebar: diam-diam, tanpa penjelasan, dari tangan ke tangan.
Pak Mahesa datang kadang-kadang, bukan rutin, kadang tiga bulan sekali, kadang setengah tahun lewat tanpa kabar. Warungnya sudah sembilan sekarang dan dia masih ngotot turun sendiri ke dapur tiap kali buka cabang baru, jadi waktunya habis di jalan antar kota. Tapi tiap dia akhirnya berhasil mampir, dia akan duduk di teras untuk waktu yang lama, hanya menatap pot berdaun lebar di sudut, dan tidak ada yang berani mengganggunya. Aku tahu dia sedang menengok anak laki-laki enam belas tahun yang dulu sering nangis di kursi yang sama, anak yang dia tinggal di rumah ini empat puluh tahun lalu dan dia jenguk lagi sekarang, sudah dewasa, sudah sembuh. Dia selalu pergi sebelum maghrib. Dan selalu meninggalkan amplop di laci dapur tanpa nama. Aku berhenti menolaknya. Aturan No. 1 di papan: bayar seikhlasnya. Aku belajar dari Nenek untuk tidak menambah malu pada orang yang sedang melunasi sesuatu yang sebenarnya tidak pernah harus dia lunasi.
Sore itu langit Surabaya berwarna jingga yang biasa-biasa saja, bukan jingga yang puitis, cuma jingga yang sudah berkali-kali kulihat dari jendela dapur ini, jingga yang menandai bahwa kota sebentar lagi akan menyalakan lampunya. Aku sedang di dapur, menyiapkan teh untuk seorang penghuni baru (mahasiswa yang baru kehilangan kos) ketika aku mendengarnya. Ketukan. Di pintu depan. Dua kali. Pelan, tapi pasti.
Aku mengelap tangan dan berjalan ke pintu seperti biasa. Tidak ada perasaan istimewa, tidak ada firasat, tidak ada déjà vu. Cuma sore biasa di rumah yang memang dibangun untuk ketukan biasa. Aku membuka pintu.
Di ambang berdiri seorang laki-laki. Mungkin akhir tiga puluhan, mungkin lebih muda dengan kelelahan yang menambah usianya. Rambutnya kusut, sebagian basah walau di luar tidak hujan, mungkin dia membasuh muka di pancuran umum sebelum sampai ke sini, mencoba terlihat layak. Sepatunya cuma sebelah, di kaki kiri. Kaki kanannya kaus kaki yang sudah berlubang di tumit. Yang dia bawa cuma satu kantong plastik hitam, isinya tidak banyak, mungkin baju, mungkin kosong, aku tidak tahu, aku tidak akan bertanya. Di pipi kanannya ada bekas memar yang sudah menguning, dari sesuatu yang terjadi entah berapa hari lalu. Bibirnya pecah-pecah. Dia tidak menatapku, dia menatap ke ambang, ke samping kakiku, seperti orang yang sudah lama berhenti yakin dia berhak menatap mata orang yang membuka pintu untuknya.