Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #2

Dentang yang Salah

Hujan menghantam Rumah Kamboja seperti ribuan kuku yang menggaruk peti mati.

Angin pesisir meraung dari balik tebing, membawa aroma asin laut bercampur tanah basah yang membusuk. Kilat menyambar langit hitam di atas pulau terpencil itu, memantulkan bayangan bangunan kolonial bercat merah-hitam ke genangan air seperti sosok raksasa yang sedang berdiri menunggu mangsanya pulang.

Arkana Ibrahim menghentikan langkah di depan gerbang besi tua.

Dua puluh tahun.

Sudah selama itu ia tidak kembali ke tempat ini. Namun Rumah Kamboja masih tampak sama seperti di dalam ingatannya. Besar, dingin, dan terasa hidup dengan cara yang tidak wajar.

Cat merah marun pada dinding luarnya telah menggelap dimakan usia. Jendela-jendela tinggi bergaya kolonial berdiri seperti mata kosong yang mengawasi halaman. Pilar-pilar kayu hitam menopang balkon lantai dua yang nyaris tenggelam dalam hujan dan kabut laut.

Rumah itu tampak seperti bangunan yang menolak mati.

Arkana menarik napas perlahan. Aroma kamboja langsung menusuk paru-parunya.

Manis.

Terlalu manis.

Seperti bunga yang diletakkan terlalu lama di atas kuburan.

Ia menatap lambang kuningan di gerbang: ukiran bunga kamboja yang mulai berkarat di bagian tepinya. Simbol keluarga Dewantara. Simbol yang selama bertahun-tahun ingin ia lupakan.

Namun malam ini, rumah itu memanggilnya kembali. Dan Arkana tahu panggilan semacam itu tidak pernah datang tanpa alasan.

Brak.

Gerbang besi bergerak perlahan saat ia mendorongnya. Bunyi gesekan logam tua itu langsung berubah menjadi semburat warna kelabu di mata Arkana. Kabut tipis yang bergerak lambat di udara malam.

Sinestesia.

Kutukan neurologis yang sudah menemaninya sejak kecil.

Bagi Arkana, suara tidak pernah benar-benar berupa suara. Setiap denting, bisikan, atau gesekan selalu berubah menjadi warna, bentuk, dan tekstur tertentu di dalam kepalanya. Semakin kuat emosi di balik suara itu, semakin pekat warna yang muncul.

Dan Rumah Kamboja selalu menjadi tempat paling menyiksa bagi indranya.

Ia melangkah melewati halaman depan yang dipenuhi pohon kamboja tua. Daun-daunnya bergoyang liar diterpa badai. Kilatan petir sesekali memperlihatkan patung-patung batu lumutan di sudut taman. Sebagian retak. Sebagian kehilangan kepala. Dalam cahaya singkat itu, taman rumah tampak seperti pemakaman keluarga yang terlupakan.

Langkah Arkana terhenti sejenak di depan pintu utama.

Kayu jati hitam.

Masih sama.

Ia masih ingat pintu ini. Dulu, saat masih kecil, ibunya sering berdiri di sini sambil menggenggam tangannya erat-erat. Larasati selalu tampak gelisah setiap kali memasuki rumah keluarga mereka sendiri.

Dan dua puluh tahun lalu…

Larasati masuk ke rumah ini.

Lalu menghilang.

Tidak pernah keluar lagi.

Arkana menutup mata sepersekian detik. Ia sudah lama berhenti mempercayai cerita resmi keluarga tentang ibunya yang “pergi meninggalkan rumah.”

Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan.

Dan malam ini, ia berniat menemukannya.

KRAAAK.

Pintu utama terbuka perlahan. Udara dingin langsung menyapu wajahnya. Begitu Arkana melangkah masuk ke aula utama, sensasi itu datang menghantam kepalanya sekaligus.

Suara hujan berubah warna.

Gelombang abu-abu pekat menggantung di udara seperti kabut berlendir. Derit kayu tua memercikkan garis-garis hijau kusam di sudut penglihatannya. Denting kaca patri yang diguncang badai meledak menjadi serpihan ungu transparan yang menusuk pelipisnya.

Arkana menahan napas.

Rumah ini lebih berisik daripada yang ia ingat. Aula utama terbentang luas di hadapannya.

Lantai marmer hitam memantulkan cahaya lampu gantung redup seperti permukaan air kubangan. Pilar-pilar kayu merah marun berdiri kokoh menopang langit-langit rendah yang terasa menekan kepala. Dinding panel jati gelap membuat seluruh ruangan tampak seperti bagian dalam peti mati raksasa.

Tidak ada kehangatan di rumah ini.

Tidak pernah ada.

Rumah Kamboja dibangun bukan untuk membuat orang merasa nyaman. Rumah ini dibangun untuk membuat orang merasa kecil.

DUNG.

DUNG.

DUNG.

Dentang jam berdiri di sudut aula mengguncang udara.

Arkana langsung berhenti berjalan. Matanya bergerak cepat ke arloji digital di pergelangan tangannya.

21.00 WIB.

Jam itu berdentang tiga kali.

Salah.

Di mata Arkana, suara dentangan tadi berubah menjadi cairan hijau lumut yang kental dan lengket. Warna aneh yang perlahan menetes di sudut penglihatannya seperti minyak busuk.

Ia menoleh ke arah jam kuno setinggi dua meter di sudut ruangan. Jarumnya menunjuk angka sembilan. Namun mekanismenya baru saja berdentang pukul tiga.

Ada sesuatu yang dimanipulasi. Seseorang sengaja membuat jam itu berbohong.

“Sialan! Tidak ada sinyal!” Suara kasar memecah aula.

Arkana menoleh. Tirta Dewantara berdiri dekat jendela kaca patri sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Jas mahalnya basah oleh hujan dan keringat. Wajahnya merah padam, sementara napasnya terdengar pendek dan berat.

“Apa rumah ini dibangun di dasar neraka?” geramnya. “Telepon satelitnya di mana?!” Suara Tirta meledak menjadi semburat merah menyala di mata Arkana. Warna panas yang dipenuhi bercak hitam kecil.

Panik.

Takut.

Terdesak.

“Tenanglah, Mas Tirta.” Suara lain muncul dari balik koridor.

Ratih Dewantara melangkah masuk sambil memutar tasbih batu giok di jemarinya. Syal ungu melilit lehernya rapat-rapat seolah rumah ini terlalu dingin untuk disentuh kulit.

“Rumah ini tidak suka orang yang datang membawa niat buruk.”

Trik.

Trik.

Trik.

Butiran tasbihnya berdenting pelan.

Lihat selengkapnya