Surat itu datang pada hari Selasa.
Hari yang sama membosankannya dengan hari-hari lain.
Arkana sedang berada di studio kecilnya ketika kurir mengetuk pintu. Saat itu ia sedang menyelesaikan rancangan sebuah museum yang sudah tiga kali direvisi klien.
Ketukan terdengar dua kali.
Tok.
Tok.
"Taruh saja di depan!" teriaknya tanpa menoleh.
Beberapa detik kemudian suara langkah menjauh. Arkana baru keluar lima menit kemudian.
Sebuah amplop cokelat tua tergeletak di depan pintu.
Tidak ada logo perusahaan.
Tidak ada stempel resmi.
Hanya namanya yang ditulis dengan tinta hitam.
ARKANA
Tulisan tangan. Bukan hasil cetak. Aneh.
Arkana mengangkat amplop itu. Ada sesuatu yang langsung membuatnya tidak nyaman. Kertasnya terlalu tua. Seolah telah disimpan bertahun-tahun sebelum akhirnya dikirim.
Ia membawa amplop itu ke meja kerja. Membukanya perlahan. Dan seketika seluruh tubuhnya membeku. Di bagian bawah surat terdapat sebuah tanda tangan.
Nama yang sangat dikenalnya.
Baskara Dewantara.
Kakeknya.
Orang yang sudah meninggal tiga bulan lalu.
Arkana membaca ulang nama itu beberapa kali. Berharap matanya salah. Tetapi tulisan itu tetap sama. Baskara Dewantara.
Jelas.
Nyata.
Mustahil.
Jari Arkana mulai terasa dingin. Ia segera membaca isi surat.
---
Arkana.
Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku sudah mati.
Jangan tersenyum. Aku tahu kau mungkin menganggap itu kabar baik.
Kau berhak berpikir begitu. Aku memang tidak pernah menjadi kakek yang baik.
Tetapi sebelum semuanya berakhir, ada satu hal yang harus kau ketahui.
Datanglah ke Rumah Kamboja.
Datang sendirian.
Jangan percaya siapa pun.
Termasuk keluargamu sendiri.
Karena apa yang terjadi pada Larasati dua puluh tahun lalu bukanlah seperti yang selama ini kau dengar.
Jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang ibumu, datanglah.
Aku akan menunggumu.
Baskara Dewantara-
---
Arkana tidak bergerak. Tidak berkedip. Bahkan lupa bernapas.