Laut selalu membuat Arkana gelisah. Bukan karena ombak. Bukan karena perjalanan panjang. Melainkan karena laut selalu mengingatkannya pada perpisahan.
Dan hari itu, di atas kapal kecil yang berangkat menuju Pulau Tanjung Kalapati, perasaan itu datang kembali.
Langit mendung sejak pagi. Awan abu-abu menggantung rendah seperti langit yang terlalu lelah untuk berdiri tegak.
Arkana berdiri di geladak belakang sambil memegang surat Baskara yang sudah mulai kusut karena terlalu sering dibaca.
Di hadapannya, lautan membentang tanpa ujung. Di belakangnya, daratan semakin mengecil. Seolah dunia yang dikenalnya perlahan menjauh.
"Kalau sekarang kau turun, aku tidak akan menjemput." Suara itu muncul dari belakang.
Arkana menoleh. Tirta berdiri sambil membawa secangkir kopi plastik. Tubuhnya masih besar seperti yang ia ingat. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian. Namun wajahnya tetap sama. Wajah seorang pria yang selalu tampak marah bahkan ketika sedang diam.
"Kau membuatku terkejut." Tirta mendengus.
"Itu karena kau terlalu banyak melamun."
Arkana tidak menjawab. Hubungannya dengan Tirta selalu aneh. Mereka tidak pernah benar-benar dekat. Tetapi juga tidak cukup jauh untuk menjadi orang asing. Ada terlalu banyak kenangan buruk yang berdiri di antara mereka.
Dan nama Larasati adalah yang terbesar.
Tirta menyerahkan kopi. Arkana menerimanya tanpa bicara. Mereka berdiri beberapa saat dalam diam. Mendengarkan suara mesin kapal. Mendengarkan ombak. Mendengarkan hal-hal yang lebih mudah daripada percakapan keluarga.
"Apa kau percaya surat itu?" tanya Arkana akhirnya.
Tirta tertawa pendek. "Tidak."
"Lalu kenapa datang?"
Arkana tahu pasti, setiap detik adalah hal yang berharga buat Pamannya. Uang dan uang selalu yang ia pikirkan dari dulu. Begitulah tabiat yang melekat di keluarga Dewantara. Keluarga pebisnis. Hanya Arkana yang memilih jalan lain. Ia jadi arsitek, entah genetik dari siapa.
Pertanyaan Arkana seperti menggantung. Karena Tirta diam, pria itu menatap laut.
Lama.
Kemudian menjawab pelan. "Karena aku takut kalau ternyata aku salah."
---
Pulau Tanjung Kalapati muncul tiga jam kemudian. Sungguh perjalanan panjang, walaupun mereka naik boat sewaan tercepat.
Pertama-tama hanya berupa bayangan gelap di tengah laut. Lalu perlahan berubah menjadi garis pantai. Kemudian hutan. Dan akhirnya tebing-tebing batu yang menjulang di sisi utara pulau.
Arkana merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Dua puluh tahun.
Sudah dua puluh tahun sejak terakhir kali ia melihat tempat itu. Namun pulau tersebut tetap terlihat sama.
Terlalu sepi.
Terlalu sunyi.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar bergerak di sana.
Kapal merapat di dermaga kayu tua. Saat Arkana turun, aroma asin laut langsung bercampur dengan bau bunga yang sangat dikenalnya.
Kamboja.
Pohon-pohon kamboja tumbuh hampir di seluruh pulau.
Di sepanjang jalan.
Di tepi pantai.
Di dekat bukit.
Kelopak putih dan kuning berserakan tertiup angin.
Indah.
Dan entah kenapa, menyedihkan.
"Masih sama." Arkana bergumam tanpa sadar.
Tirta mengangguk. "Rumah itu suka mempertahankan masa lalu."
Kalimat itu terdengar aneh.
Namun sebelum Arkana sempat bertanya, sebuah mobil tua berhenti di depan mereka. Seseorang keluar dari kursi pengemudi. Seorang perempuan. Tubuhnya tinggi dan kurus. Wajahnya tegas. Matanya tajam. Arkana membutuhkan beberapa detik untuk mengenalinya.
"Bibi Ratih?"
Perempuan itu tersenyum tipis. Lebih mirip formalitas daripada kehangatan. "Halo, Arkana."