Tidak seorang pun langsung menyentuh amplop itu.
Hujan masih mengguncang jendela-jendela tinggi Rumah Kamboja. Kilatan petir sesekali menerangi aula dalam cahaya putih singkat yang membuat bayangan pilar kayu tampak seperti sosok-sosok kurus yang sedang berdiri mengelilingi mereka.
Arkana berdiri di depan meja marmer dengan tatapan terpaku pada amplop cokelat tua itu.
Namanya tertulis jelas di permukaan kertas kusam:
ARKANA IBRAHIM.
Bukan “Arkana Dewantara”. Bukan “cucu Baskara”. Melainkan nama yang selama ini dianggap noda oleh keluarga besar itu.
Ibrahim.
Nama ayahnya. Nama garis keturunan yang selalu dihapus dari percakapan keluarga.
Di belakangnya, Ratih berbicara lirih dengan napas gemetar. “Kenapa… kenapa Ayah menulis nama dia?”
Tirta mendecakkan lidah kasar. “Karena orang tua itu sudah sinting sebelum mati.”
Namun Arkana mendengar sesuatu berbeda di balik suara pamannya.
Takut.
Warna merah gelap bercampur hitam mengambang di sekitar suara Tirta seperti asap terbakar.
Pamannya panik. Dan kepanikan itu semakin membesar sejak amplop ini muncul.
Arkana mengulurkan tangan perlahan. Begitu ujung jarinya menyentuh segel lilin hitam berbentuk bunga kamboja, sensasi hangat langsung merambat ke kulitnya.
Aneh.
Seolah amplop itu baru saja diletakkan beberapa menit lalu.
“Jangan dibuka dulu.” Suara Gideon membuat semua orang menoleh.
Pelayan tua itu masih berdiri di dekat koridor dengan lampu badai di tangannya. Cahaya api membuat separuh wajahnya tenggelam dalam bayangan.
“Ada aturan pertama,” katanya.
Tirta langsung mendekat. “Aturan? Kita bukan peserta permainan sirkus!”
“Semua pewaris wajib berada di aula ketika surat pertama dibuka.”
“Kita sudah di sini.”
“Belum semuanya.”
Sunyi turun sesaat.
Lalu Tirta menyipitkan mata. “Maksudmu siapa lagi?”
Gideon tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergerak perlahan ke arah balkon lantai dua.
Arkana mengikuti arah pandangnya.
Gelap.
Kosong.
Namun sepersekian detik kemudian...
KREEEK.
Suara kayu tua bergeser terdengar dari atas.
Ratih tersentak. “S-siapa itu?”
Tak ada jawaban.
Langkah kaki pelan mulai terdengar dari koridor lantai dua.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu bergema lambat dan teratur. Di mata Arkana, bunyi langkah tersebut memercikkan warna biru pucat yang dingin.
Tenang.
Terkontrol.
Tidak seperti Tirta yang selalu merah membara, atau Ratih yang kuning gelisah.
Seseorang muncul dari kegelapan balkon. Seorang perempuan muda.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Rambut hitamnya pendek sebahu, sedikit basah oleh udara lembap rumah. Ia mengenakan mantel panjang abu-abu dan sepatu boots hitam penuh lumpur.
Tatapannya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang baru datang ke rumah duka.
Ratih tampak bingung. “Siapa dia?”
Namun Tirta justru membeku. Wajahnya langsung kehilangan warna. “Kau…”
Perempuan itu berhenti di ujung tangga. “Aku terlambat?”
Suasana aula berubah aneh.
Arkana memperhatikan Tirta dengan saksama. Warna merah panik di sekitar pria itu kini berubah menjadi merah tua yang jauh lebih gelap.
Ketakutan murni.
Perempuan itu menatap Gideon lebih dulu, lalu matanya beralih kepada Arkana. “Aku Sena.”
Arkana tidak menjawab.
“Aku dipanggil ke sini tiga hari lalu oleh Baskara Dewantara.”
Nama itu membuat Ratih mengerutkan kening. “Tidak mungkin. Ayah bahkan tidak pernah menyebutmu.”
“Memang.” Sena menuruni tangga perlahan. “Tapi beliau mengenalku.”
Tirta mendadak bergerak maju.
“Ini tidak masuk akal.” Nada suaranya lebih tinggi dari sebelumnya. “Kau tidak seharusnya ada di sini.”
“Kenapa?” Sena menatapnya datar. “Takut?”
“Jangan bicara sembarangan.”
“Kalau begitu jangan terlihat seperti baru melihat hantu.”