Hujan menghantam Rumah Kamboja tanpa jeda. Butiran air berdebam di atap, pilar, dan gerbang besi tua seperti ribuan jari yang sedang mencoba masuk dari luar. Angin laut meraung dari balik tebing, membawa aroma garam, tanah basah, dan sesuatu yang lebih tua daripada badai itu sendiri.
DONG.
DONG.
DONG.
Arkana mendongak. Jam berdiri di sudut aula baru saja berdentang tiga kali. Ia menoleh ke arloji digital di pergelangan tangannya.
18.00.
Ada yang salah.
Di mata Arkana, dentangan tadi berubah menjadi warna hijau lumut yang kental di matanya. Warna yang membuat tengkuknya meremang. Sinestesianya bekerja.
Perlahan ia memandang jam tua setinggi hampir dua meter di sudut ruangan. Jarumnya menunjuk angka enam. Namun mekanismenya baru saja mengumumkan pukul tiga.
Seseorang membuat jam itu berbohong.
"Sial. Tidak ada sinyal!" Suara kasar itu memecahkan kesunyian.
Tirta Dewantara berdiri dekat jendela kaca patri sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Ia membuka jendela, hingga jas mahalnya basah oleh hujan. Rahangnya mengeras.
"Apa rumah ini dibangun di dasar laut?" gerutunya.
Warna merah panas langsung meledak di penglihatan Arkana. Arkana mencoba memejamkan mata. Tapi sejak kakinya melangkah ke dalam Rumah Kamboja, Sinestesia-nya muncul tanpa bisa ditolak.
Merah seperti darah. Itulah warna yang ia lihat di aura Tirta.
Marah. Tidak.
Bukan marah.