Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #5

Sang Penjaga Rumah

”Ehem!” itu suara dehem Gideon.

Nama itu langsung membangkitkan ingatan yang nyaris terkubur. Arkana mengenalnya. Penjaga Rumah Kamboja.

Bayangan lelaki itu dulu selalu muncul di belakang Baskara seperti bagian dari rumah yang tidak pernah benar-benar bergerak, tetapi selalu ada. Tak ada yang berubah dari Gideon, selain sebelah matanya yang sekarang memutih. Katarak.

Api lampu badai bergetar pelan. Cahayanya menari di dinding kayu dan membuat sosok Gideon tampak lebih memanjang.

"Aku sudah menunggu kalian," katanya.

Suaranya rendah.

Datar.

Hampir tanpa emosi.

"Panggil pengacara keluarga. Aku ingin semuanya selesai malam ini."

Gideon tidak segera menjawab. Keheningan yang muncul setelahnya terasa aneh.

Terlalu lama.

Terlalu berat.

Lalu ia berkata, "Pengacara sudah meninggal dua hari lalu."

Tidak ada yang bergerak.

Hujan masih menghantam jendela. Namun suara itu terdengar jauh. Seolah dunia tiba-tiba menjauh beberapa langkah.

Ratih menutup mulut. Arkana membeku. Bahkan Tirta tampak kesulitan memahami kalimat yang baru saja didengarnya.

Bunyi kaca beradu terdengar pelan.

Ting.

Semua menoleh.

Perempuan yang berdiri di dekat tangga utama menjatuhkan gelas air yang sejak tadi dipegangnya. Air tumpah membasahi marmer. Wajahnya pucat.

Bukan seperti orang yang baru mendengar kabar kematian. Melainkan seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia datang terlambat.

Tatapan Tirta langsung beralih kepadanya.

Terlalu lama.

Lalu ia segera membuang muka.

"Apa maksudmu meninggal?" suara Tirta terdengar serak.

"Beliau wafat dua hari lalu."

"Mustahil."

"Beliau ditemukan di ruang kerjanya." Gideon berhenti sejenak. "Terkunci dari dalam."

Ratih mundur satu langkah. Tasbih gioknya bergerak semakin cepat.

Klik.

Lihat selengkapnya