Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #7

Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Tidak ada yang bergerak.

Ruangan musik itu tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk bernapas. Cahaya lampu minyak di tangan Sena berguncang kecil, membuat bayangan mereka menari liar di dinding merah tua seperti sosok-sosok yang sedang mencoba keluar dari dalam cat.

Duk.

Benturan ketiga terdengar dari balik pintu besi bundar.

Lebih keras.

Lebih jelas.

Ratih mundur hingga punggungnya membentur rak arsip. “Tidak…” bisiknya gemetar. “Tidak mungkin…”

Tirta mengangkat batang besi lebih tinggi. “Siapa di bawah sana?!”

Sunyi.

Hanya suara hujan dan dengung mekanis rumah yang menjawab. Namun Arkana tetap menatap pintu bundar itu tanpa berkedip. Di mata sinestesianya, benturan tadi memercikkan warna abu pucat yang lemah. Tidak agresif. Tidak seperti suara jebakan rumah yang selalu berwarna ungu gelap atau hijau busuk.

Suara ini terasa… manusia. Seseorang benar-benar ada di bawah sana.

“Atau sesuatu,” gumam Sena pelan.

Arkana berjongkok di depan pintu besi. Permukaannya dingin dan lembap. Roda pemutar di tengah tampak tua, tetapi tidak berkarat. Artinya mekanisme ini masih rutin bergerak. Ia memperhatikan simbol bunga kamboja di tengah pintu.

Lalu menyadari sesuatu. “Ada bekas minyak baru.”

Tirta mengernyit. “Apa?”

“Seseorang membuka pintu ini belum lama.”

Ratih langsung memucat lebih parah. “Itu mustahil…”

“Kenapa?”

“Karena Ayah melarang siapa pun masuk ke bunker bawah sejak dua puluh tahun lalu.”

Arkana menoleh cepat. “Sejak Ibu menghilang?”

Ratih terdiam. Dan diamnya kali ini terasa seperti pengakuan.

Duk.

Benturan kembali terdengar. Kali ini diikuti bunyi gesekan panjang. Seperti telapak tangan yang diseret perlahan di permukaan logam dari sisi dalam.

Ratih menutup telinga. “Jangan buka…”

Tirta justru melangkah maju. “Kita harus tahu siapa di bawah sana.”

“Bagaimana kalau itu jebakan?” tanya Sena.

“Seluruh rumah ini jebakan!” Tirta mencengkeram roda pemutar pintu besi.

Dan tepat saat itu...

KLIK.

Seluruh lampu di ruangan mati bersamaan. Gelap total menelan mereka. Ratih menjerit. Sena langsung mengangkat lampu minyak tinggi-tinggi, namun apinya padam seolah baru saja ditiup sesuatu.

“Api tidak mati sendiri,” bisik Arkana cepat.

Udara.

Ada aliran udara mendadak. Berarti…

Salah satu dinding bergerak.

GRRRRRRK.

Suara roda gigi berat mengguncang seluruh ruangan. Dinding batu di belakang mereka mulai bergeser perlahan. Debu runtuh dari sela bata. Dan dari celah gelap yang terbuka itu...

Angin dingin menerpa wajah mereka. Bau laut bercampur karat memenuhi ruangan.

“Astaga…” Sena mundur satu langkah.

Lorong baru muncul.

Lebih besar.

Lebih tua.

Dan jauh lebih gelap dibanding koridor sebelumnya.

Arkana langsung memahami sesuatu. “Rumah sedang mengubah rute.”

“Apa maksudmu?” Ratih panik.

“Labirinnya bergerak.”

Sunyi.

Tirta menatap Arkana tajam. “Kau bercanda.”

“Tidak.”

Arkana menunjuk rel besi di bawah dinding yang bergeser. “Sektor rumah ini modular.”

“Modular?”

“Dindingnya bisa berpindah.” Sena langsung memahami lebih cepat daripada yang lain. “Seperti puzzle mekanik.”

Arkana mengangguk pelan. “Baskara tidak hanya membangun jebakan.”

Tatapannya bergerak ke lorong gelap baru di depan mereka. “Dia membangun rumah yang bisa berubah.”

Ratih hampir kehilangan keseimbangan. “Itu gila…”

“Ya,” bisik Arkana. “Dan seseorang menghabiskan puluhan tahun untuk menyempurnakannya.”

Dari dalam lorong baru terdengar suara logam berdetak perlahan.

Tang…

Tang…

Tang…

Lihat selengkapnya