Tidak seorang pun langsung menyentuh amplop itu.
Hujan masih menghantam jendela-jendela tinggi Rumah Kamboja. Sesekali petir menyambar, menerangi aula dalam cahaya putih yang membuat bayangan pilar-pilar kayu tampak seperti sosok kurus yang sedang mengawasi mereka dari segala arah.
Arkana berdiri di depan meja marmer. Tatapannya tertuju pada nama yang tertulis di permukaan amplop kusam itu.
ARKANA IBRAHIM.
Bukan Dewantara.
Bukan cucu Baskara.
Ibrahim. Nama ayahnya.
Nama yang selama bertahun-tahun diperlakukan seperti noda dalam keluarga ini.
Di belakangnya terdengar suara Tirta. "Tentu saja Ayah melakukan ini." Nadanya datar.
Terlalu datar.
"Melakukan apa?" tanya Ratih.
"Menghina kita untuk terakhir kalinya."
Ratih tidak menjawab. Tasbih giok di jemarinya bergerak pelan.
Klik.
Klik.
Klik.
Arkana memperhatikan. Semakin gugup Ratih, semakin cepat tasbih itu berputar. Kebiasaan lama. Tidak berubah sedikit pun.
"Silakan dibuka." Suara Gideon terdengar dari dekat koridor.
Lampu badai di tangannya memantulkan cahaya kekuningan ke dinding aula.
"Apa setelah itu kita boleh pulang?" tanya Tirta.
Tak ada senyum di wajahnya. Tak ada candaan.
Gideon hanya menatap pintu baja yang menutup jalan keluar. "Tidak." Jawaban singkat itu membuat suasana kembali membeku.
Arkana menarik napas. Lalu mematahkan segel lilin hitam berbentuk bunga kamboja.
KRAK.
Suara kecil itu terdengar aneh di tengah keheningan. Seperti sesuatu yang baru saja dibangunkan. Ia mengeluarkan selembar kertas tua dari dalam amplop. Tulisan tangan Baskara langsung dikenalnya.
Tegas.
Tajam.
Nyaris seperti ukiran.
Arkana mulai membaca.
Kepada anak-anak yang datang setelah kematianku.
Tak ada yang bergerak.
Bila kalian sedang berdiri bersama saat membaca surat ini,
maka aku harus mengucapkan selamat.
Ratih mengernyit.
Arkana melanjutkan.
Selamat untuk kalian, akhirnya setelah puluhan tahun,
keluarga ini berkumpul tanpa ada yang berpura-pura bahagia.
Tirta mendecak kesal. Namun tidak menyela.
Kalian mungkin datang karena warisan.
Karena rasa bersalah.
Karena rasa ingin tahu.
Atau karena alasan yang bahkan tidak berani kalian akui kepada diri sendiri.
Arkana berhenti sejenak. Kalimat terakhir terasa aneh. Seolah ditujukan kepada seseorang secara khusus. Tatapannya bergerak tanpa sadar ke arah Sena.
Perempuan itu berdiri dekat tangga.
Diam.
Sejak tadi terlalu diam.
Tatapannya tertuju pada surat di tangan Arkana. Bukan pada uang. Bukan pada warisan. Melainkan pada nama Baskara.
Seolah ia datang untuk sesuatu yang lain.