Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #8

Perut Rumah Kamboja

Tangisan itu terdengar pelan.

Terlalu pelan.

Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Arkana berdiri. Karena suara tersebut tidak terdengar seperti jeritan ketakutan biasa. Melainkan suara seseorang yang sudah terlalu lama menangis sendirian.

Lorong bawah tanah membentang dingin di depan mereka. Dinding batu tua yang lembap memantulkan gema isak itu berkali-kali hingga terdengar datang dari segala arah.

Ratih langsung mencengkeram lengan Sena. “Jangan… jangan mendekat…”

Namun Tirta sudah bergerak lebih dulu. “Kalau ada orang hidup di bawah sini, kita harus tahu siapa dia.”

Langkahnya cepat, tetapi Arkana bisa melihat kegugupan di balik tubuh besar pamannya. Bahunya tegang. Napasnya berat. Pria itu mulai kehilangan kendali atas rasa takutnya.

Arkana mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Cahayanya menyapu lorong bawah tanah itu sedikit demi sedikit. Dan semakin jelas ia melihat struktur tempat ini, semakin kuat rasa dingin merayap di tulang belakangnya.

Ini bukan bunker biasa.

Lorong batu ini terlalu besar untuk sekadar ruang penyimpanan keluarga kaya.

Pipa-pipa logam tua menjalar di langit-langit seperti pembuluh darah raksasa. Roda gigi sebesar tubuh manusia berputar perlahan di balik kisi besi dinding, menggerakkan piston-piston tua yang masih mengembuskan uap panas secara berkala.

Desis uap itu terdengar seperti napas. Rumah Kamboja benar-benar bernapas.

Tang…

Tang…

Tang…

Suara logam berdetak dari kejauhan.

Konstan.

Teratur.

Seperti jantung raksasa yang tersembunyi jauh di bawah tanah.

Sena memperhatikan sekeliling dengan wajah pucat. “Berapa banyak orang yang membangun semua ini…?”

Tak ada jawaban. Karena tempat ini terlalu besar untuk dikerjakan satu generasi.

Arkana mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan: Rumah Kamboja kemungkinan dibangun ulang selama puluhan tahun oleh banyak tangan.

Rahasia demi rahasia ditanam sedikit demi sedikit.

Lorong demi lorong diperluas.

Dan setiap generasi keluarga Dewantara menambahkan lapisan baru di atas kebusukan lama.

Tangisan itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas.

Ratih hampir terjatuh. “Itu perempuan…”

Tirta berhenti tepat di depan pintu besi yang terbuka sedikit. Nomor di atasnya hampir pudar dimakan karat.

1x (terhapus)

Sialnya, angka itu membuat Arkana langsung teringat sesuatu. Tiga belas.

Jumlah dentang jam yang salah.

Tiga kali.

Tiga belas.

Baskara sengaja memakai pola angka tertentu. Dan Arkana yakin itu bukan kebetulan.

Tirta menyentuh pintu besi perlahan.

Dingin.

Lembap.

Namun ada goresan-goresan panjang di permukaannya.

Bekas kuku.

Lagi.

Ratih memalingkan wajah. “Oh Tuhan…”

Arkana melangkah mendekat. Tangisan dari dalam ruangan berhenti mendadak.

Sunyi.

Namun justru sunyi itu terasa lebih menakutkan.

Sena berbisik pelan, “Ada seseorang di sana.”

Arkana menggeleng perlahan. “Belum tentu.”

Tirta menatapnya kesal. “Kau dengar sendiri suaranya.”

“Dan rumah ini juga bisa memutar rekaman.”

Sunyi kembali turun.

Karena semua sadar:

di tempat seperti ini,

suara tidak bisa dipercaya.

Rumah Kamboja telah membuktikan bahwa ia mampu:

— menggerakkan piano,

— memutar pesan,

— mengubah lorong,

— bahkan mengatur ritme dentang.

Lalu kenapa tidak suara tangisan?

Namun sesuatu di dalam diri Arkana tetap merasa tidak nyaman. Karena sinestesianya tidak membaca suara itu seperti mesin. Warna tangisan tadi abu pucat bercampur biru tipis.

Lihat selengkapnya