Koridor Barat terasa lebih dingin dibanding bagian lain rumah. Bukan dingin karena hujan. Bukan pula karena angin laut.
Dingin yang berbeda.
Seperti suhu ruangan yang sudah terlalu lama tidak disentuh manusia.
Lorong sempit itu membentang lurus di depan mereka. Dinding panel jati hitam menjulang di kiri-kanan. Cahaya lampu minyak memantul pada permukaan kayu tua dan menghasilkan semburat merah kusam yang bergerak perlahan setiap kali api bergoyang.
Arkana tidak menyukai lorong ini.
Rumah Kamboja dipenuhi suara. Namun bagian ini berbeda.
Terlalu banyak suara.
Terlalu banyak lapisan.
Dengung logam. Gesekan roda gigi. Getaran kabel baja.
Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mampu ia identifikasi. Seperti suara seseorang yang sedang berbisik dari balik dinding.
Tirta berjalan paling depan. Terlalu cepat. Terlalu terburu-buru. Seolah ia sudah mengetahui apa yang menunggu di ujung lorong.
Ratih berjalan paling belakang. Tasbih gioknya bergerak tanpa henti.
Klik.
Klik.
Klik.
Semakin lama semakin cepat.
Sementara Sena terus mengamati struktur rumah. Matanya bergerak dari sambungan panel kayu ke ventilasi tua di langit-langit. Lalu ke lantai. Kemudian kembali ke dinding. Seperti seseorang yang sedang mencari pola.
Arkana mulai memperhatikannya. Perempuan itu tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali melihat bangunan tua. Cara ia memandang rumah terlalu teliti.
Terlalu terlatih.
"Kenapa kau terus melihat dinding?"
Sena menoleh. Pertanyaan itu tampaknya membuatnya terkejut. "Aku hanya penasaran."
"Itu bukan jawaban."
Senyum tipis muncul di wajah Sena. "Kau selalu seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Mencurigai semua orang."
Arkana tidak menjawab. Hey, siapa sih perempuan ini? Kenapa mendapat juga surat? Berarti dia pewaris. Tapi Arkana tak heran. Karena masalahnya bukan Sena. Masalahnya adalah tidak ada seorang pun di rumah ini yang tampak datang tanpa rahasia.
Termasuk dirinya sendiri.
Mereka tiba di sebuah persimpangan. Lampu tua menggantung miring di sudut lorong. Cahayanya berkedip pelan.
Arkana berhenti. Ada sesuatu yang mengganggu. Ia mendekati panel kayu di sisi kiri. Lalu mengetuknya.
Tok.
Hampa.
Tok.
Masih hampa.
Ia menempelkan telapak tangan ke permukaan kayu. Dingin. Namun di baliknya ada getaran halus.
Sangat halus.
Seperti denyut jantung yang sedang tidur.
"Ada ruang di balik dinding ini," katanya.
Tirta mendengus. "Kau selalu harus terdengar pintar?"
"Aku arsitek," bantah Arkana,"Ada sesuatu di sana."
"Kau bisa melihat menembus kayu sekarang?" Tirta bertanya sinis.
"Tidak."
Arkana mengetuk sekali lagi.
Tok.
"Rumah ini sedang bergerak."
Keheningan jatuh. Karena jauh di dalam hati, mereka semua sudah mengetahui hal itu.
Rumah ini memang bergerak. Rumah ini memang hidup. Bukan karena hantu. Melainkan karena seseorang telah mengubah seluruh bangunan menjadi mesin raksasa.
"Kenapa kakek Baskara melakukan semua ini?" Pertanyaan itu datang dari Sena.