Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #9

Larasati yang Berdiri di Ujung Lorong

Tidak ada seorang pun yang bernapas dengan normal.

Lorong bawah tanah itu terasa seperti berhenti bergerak sesaat ketika perempuan bergaun putih itu muncul di bawah cahaya lampu redup. Udara dingin yang sejak tadi memenuhi bunker mendadak berubah lebih berat, lebih lembap, seolah seluruh ruang di bawah Rumah Kamboja baru saja membuka paru-parunya dan mengembuskan napas panjang penuh bau karat dan tanah basah.

Arkana tidak bisa mengalihkan pandangan. Tubuhnya menegang. Darahnya terasa berdetak terlalu keras di telinga.

Karena sejauh apa pun logika mencoba bertahan, ada sesuatu dalam diri manusia yang akan hancur ketika berhadapan dengan wajah seseorang yang selama puluhan tahun dianggap hilang.

Dan perempuan itu...

berdiri tepat di depannya.

Rambut panjangnya jatuh kusut hingga menutupi sebagian wajah. Gaun putih yang dikenakannya tampak tua dan menguning di beberapa bagian, seperti kain yang terlalu lama tersimpan dalam ruang lembap. Tubuhnya kurus. Terlalu kurus.

Namun cara ia berdiri…

cara kepalanya sedikit miring…

dan suara lirih yang memanggil nama Arkana...

semuanya terlalu mirip.

“Ibu…” Suara Arkana nyaris pecah.

Ia melangkah satu langkah maju. Lalu satu langkah lagi.

Sena langsung mencengkeram pergelangan tangannya lebih keras. “Jangan.”

Namun Arkana hampir tidak mendengar. Di matanya, seluruh lorong mulai dipenuhi warna-warna kacau akibat sinestesia yang kehilangan kendali. Lampu kuning tua memercik seperti cairan emas yang meleleh di udara. Suara detak logam rumah berubah menjadi garis-garis hitam panjang yang berdenyut di sepanjang dinding batu.

Dan di tengah semua itu...

perempuan di ujung lorong tetap berdiri diam.

Menunggunya.

Ratih mulai menangis terisak-isak di belakang mereka. “Itu Larasati… Ya Tuhan… itu Larasati…”

Tirta justru tampak seperti sedang melihat mimpi buruk yang selama ini berusaha ia kubur. Wajahnya pucat abu-abu. Bibirnya gemetar.

“Tidak…” bisiknya lirih. “Tidak mungkin…”

Tang.

Tang.

Tang.

Detakan logam di dalam rumah semakin cepat. Arkana akhirnya menyadari sesuatu yang membuat dadanya membeku:

rumah ini bereaksi terhadap perempuan itu.

Pipa-pipa di langit-langit mulai mengeluarkan uap tipis. Roda-roda gigi besar di balik kisi besi bergerak semakin cepat sambil mengeluarkan suara geraman mekanis yang dalam.

Seolah Rumah Kamboja sedang bangun.

Atau lebih buruk...

senang.

Perempuan di ujung lorong mengangkat tangan perlahan.

Gerakannya lambat.

Tidak natural.

Seperti seseorang yang sudah lama lupa cara memakai tubuhnya sendiri.

“Arka…”

Ratih menutup mulut sambil tersedu. “Itu suaranya… itu benar-benar suaranya…”

Arkana melangkah lagi.

Namun kali ini Sena menariknya lebih keras. “Berhenti!”

“Aku harus ke sana.”

“Tidak.”

“Itu ibuku.”

“Kalau itu benar ibumu,” desis Sena pelan, “kenapa dia berdiri di rumah bawah tanah seperti mayat hidup?”

Kalimat itu seperti menyiram air es ke kepala Arkana. Ia berhenti. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan sosok perempuan itu dengan lebih teliti. Lalu rasa dingin mulai merayap naik ke tulang belakangnya.

Karena Sena benar.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Perempuan itu tidak berkedip.

Sama sekali.

Dan tubuhnya…

tidak bergerak mengikuti napas.

Seolah ia hanya berdiri.

Diam.

Kaku.

Arkana menyipitkan mata. Lampu-lampu lorong berkedip pelan. Cahayanya naik turun. Dan sesaat ketika cahaya menjadi lebih terang, Arkana melihat sesuatu di belakang tubuh perempuan itu.

Kabel.

Tipis.

Menjulur dari punggungnya menuju dinding lorong.

Jantung Arkana langsung menghantam dadanya keras. “Itu bukan manusia…”

Ratih tersentak. “Apa?”

Arkana menatap lebih tajam. Kini ia melihatnya jelas. Ada sambungan logam kecil di leher perempuan itu.

Lihat selengkapnya