Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #9

Suara yang Tidak Pernah Mati

Lubang di tengah Koridor Barat menganga seperti luka terbuka. Angin dingin terus naik dari kedalamannya, membawa aroma karat, garam laut, dan sesuatu yang lebih tua.

Bau ruang yang terlalu lama disembunyikan.

Tirta masih terduduk di lantai. Napasnya belum sepenuhnya pulih. Tak tampak lagi keangkuhan seorang Tirta. Ia menjadi pria apa adanya.

Bukan pewaris keluarga.

Bukan pengusaha.

Bukan orang yang selalu berbicara paling keras.

Hanya seorang lelaki yang baru saja melihat kematian dari jarak beberapa sentimeter.

"Aku hampir jatuh..." Suara Tirta terdengar seperti gumaman.

Tidak ditujukan kepada siapa pun. Tidak meminta jawaban.

Ratih berjongkok di sampingnya. Namun tidak menyentuhnya. Mereka bukan keluarga yang terbiasa saling menghibur.

"Aku hampir mati."

Kali ini tak ada yang menanggapi. Karena tidak seorang pun benar-benar yakin bahwa rumah ini tidak akan mencoba lagi.

Arkana berdiri di tepi lubang. Tatapannya menelusuri kayu yang runtuh. Potongannya terlalu rapi.

Terlalu presisi.

Ini bukan kerusakan. Ini keputusan.

Rumah telah memilih papan mana yang harus jatuh. Dan siapa yang harus berdiri di atasnya. Perasaan itu membuat tengkuknya merinding.

Di bawah sana, jauh di bawah sana, ia masih bisa mendengar suara roda-roda logam yang bergerak.

Lambat.

Sabar.

Seperti jam raksasa yang tidak pernah berhenti berdetak.

Sena mendekat. Lampu minyak di tangannya membuat bayangan mereka bergetar di dinding. "Apa yang kau dengar?" Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.

Arkana menoleh. "Apa?"

"Kau sering berhenti seolah sedang mendengarkan sesuatu."

Arkana diam sesaat. Kebanyakan orang akan menganggapnya aneh. Ibunya dulu juga begitu.

Namun Sena hanya menunggu. Tanpa menghakimi. Tanpa mengejek.

"Aku mendengar rumah."

Sena mengangguk. Seolah jawaban itu masuk akal.

Padahal tidak.

"Aku juga." kata Sena pelan.

Lihat selengkapnya