Ruangan di balik panel terasa berbeda dari bagian rumah lainnya.
Lebih sunyi.
Lebih tua.
Seolah waktu bergerak lebih lambat di sini.
Udara lembap bercampur aroma kayu tua memenuhi paru-paru mereka ketika masuk satu per satu. Cahaya lampu minyak yang dibawa Sena menyapu ruangan sempit itu perlahan, memperlihatkan dinding bata merah yang mulai ditelan lumut dan rak-rak kosong yang dipenuhi debu.
Namun perhatian mereka langsung tertuju pada satu benda.
Piano hitam tua.
Sendirian di tengah ruangan.
Diam.
Namun entah mengapa terasa seperti sedang menunggu.
Ratih berhenti di ambang pintu. Wajahnya langsung pucat. "Oh Tuhan..."
Arkana menoleh. "Apa?"
Ratih tidak segera menjawab. Tatapannya terpaku pada piano itu. Lama.
Terlalu lama.
"Aku ingat ruangan ini." Suaranya nyaris berbisik. "Tapi Ayah bilang tempat ini sudah dihancurkan."
Tidak ada yang bergerak. Karena bahkan debu di ruangan itu terasa seolah menyimpan sesuatu.
Arkana melangkah mendekat.
Permukaan piano tertutup lapisan debu tipis. Namun tidak merata. Ada bagian tertentu yang tampak lebih bersih. Seolah pernah disentuh.
Belum lama ini.
Sena memperhatikannya juga. "Kau melihatnya?"
Arkana mengangguk. "Ya."
"Kita berpikir hal yang sama?"
"Mungkin."
"Kita tidak sendirian."
Keheningan yang muncul setelah kalimat itu terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Ratih memeluk dirinya sendiri. Sementara Tirta justru menjauh dari piano. Seolah benda itu membuatnya tidak nyaman.
Arkana mengangkat lampu. Matanya menyapu ruangan.
Dinding.
Rak.
Langit-langit.
Lalu berhenti pada sesuatu yang membuatnya membeku. Ukiran kecil pada sisi kayu piano.
Huruf L.
Sederhana.