Proyektor tua itu terus berputar sambil mengeluarkan suara berdecit kasar.
Cahaya hitam-putih berkedip di sepanjang lorong bunker, memantul di dinding lembap dan pipa-pipa logam hingga seluruh ruang terasa seperti mimpi buruk yang direkam terlalu lama lalu diputar kembali dari neraka.
Tak seorang pun bicara.
Karena siluet laki-laki di belakang Larasati itu muncul terlalu cepat..
namun cukup jelas untuk meninggalkan luka di kepala mereka.
Arkana membeku. Napasnya tertahan. Sementara rekaman di dinding mulai dipenuhi garis statis yang bergerak liar.
KRRRRRRT.
Layar berkedip. Wajah Larasati menghilang. Lalu seluruh proyektor mati bersamaan.
Gelap langsung menelan lorong.
Ratih menangis pelan di sudut dinding. Sena masih berdiri kaku sambil menatap ruang kosong tempat rekaman tadi diputar. Dan Tirta…
Tirta tampak seperti seseorang yang baru saja melihat dosa masa lalunya bangkit dari kubur.
“Siapa itu?” suara Arkana akhirnya pecah.
Tak ada jawaban.
Tang.
Tang.
Tang.
Detakan rumah semakin keras.
Arkana merasa seluruh bunker mulai hidup di sekeliling mereka. Pipa-pipa tua bergetar lebih kuat. Uap putih menyembur dari sambungan logam di dinding. Lampu kuning tua di lorong berkedip cepat seperti mata yang sedang membuka dan menutup.
Rumah Kamboja sedang bereaksi. Dan entah kenapa, Arkana mulai merasa rumah ini tidak menyukai fakta bahwa mereka baru saja melihat rekaman itu.
“Siapa laki-laki itu?” ulang Arkana, kali ini lebih keras.
Ratih memalingkan wajah. Tirta mengusap wajahnya kasar.
“Rekamannya terlalu rusak.”
“Kau tahu sesuatu.”
“Aku bilang aku tidak yakin.”
“KAU TAHU SESUATU!” Bentakan Arkana menggema di seluruh lorong bawah tanah.
Namun Tirta tidak membalas dengan amarah. Suatu hal yang bukan dirinya yang biasanya mudah terpancing emosi. Ia hanya tampak lelah. Sangat lelah.
Pria besar itu menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya berkata lirih, “Dulu… Ayah pernah menuduh seseorang membocorkan jalur bunker keluarga.”
Sunyi.
Sena langsung mengangkat kepala. “Siapa?”
Tirta tertawa pendek tanpa humor. “Masalahnya, Ayah selalu berubah-ubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Kadang dia menuduh Larasati.”
Ratih menutup mata. “Kadang dia menuduh pegawai rumah.”
Tirta menarik napas berat. “Dan beberapa kali…”
Ia berhenti.
Arkana menatapnya tanpa berkedip. “Beberapa kali apa?”
Tirta akhirnya mengangkat kepala perlahan. “Dia menuduh Gideon.”
Nama itu membuat udara terasa lebih dingin. Pelayan tua. Satu-satunya orang yang tampak memahami seluruh rumah ini.
Sena mengerutkan kening. “Kalau Baskara mencurigainya, kenapa Gideon tetap dipertahankan?”
“Karena Ayah tidak bisa hidup tanpa dia.”
Tang.
Tang.
Tang.
Detakan logam semakin cepat. Arkana mulai sadar bunyi itu tidak lagi terdengar jauh. Melainkan bergerak mendekat. Seperti sesuatu yang besar sedang aktif jauh di balik dinding bunker.
Ratih memeluk dirinya sendiri. “Ayah dan Gideon membangun ulang rumah ini bersama.”
Arkana langsung menoleh. “Apa?”
Ratih mengangguk pelan. “Waktu Larasati datang ke keluarga ini, sektor bawah tanah belum sebesar sekarang.”
Potongan demi potongan mulai tersusun di kepala Arkana. Berarti setelah ibunya datang…
rumah ini diperluas.
Dan setelah Larasati menghilang…
rumah ini berubah menjadi benteng penuh jebakan.
Sena bersandar ke dinding sambil berpikir cepat. “Jadi ada kemungkinan seluruh bunker ini dibangun untuk menutupi sesuatu.”
“Atau seseorang,” gumam Arkana.
Kalimat itu membuat Ratih kembali pucat. Tangisan kecilnya pecah lagi. “Aku tidak mau di sini…”