Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #12

Perut Rumah Kamboja

Tangisan itu terdengar lagi.

Pelan.

Jauh.

Namun cukup untuk membuat seluruh lorong bawah tanah terasa lebih dingin.

Arkana tidak menyukai suara itu. Bukan karena menyeramkan. Justru karena terlalu manusiawi. Tangisan itu terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sendirian hingga air matanya habis.

Ratih langsung berhenti berjalan. Tasbih giok di tangannya bergetar kecil. "Jangan."

Tak seorang pun menjawab. Karena mereka semua tahu kata itu bukan ditujukan kepada mereka. Melainkan kepada kenangan yang sedang bangkit kembali.

Di depan mereka, pintu besi bernomor 13 terbuka sedikit. Celah hitam menganga seperti mata yang sedang mengawasi.

Tirta melangkah lebih dulu. Arkana memperhatikan punggung pamannya. Ada sesuatu yang berubah sejak mereka turun ke bawah tanah.

Pria itu masih keras kepala. Masih kasar. Namun sekarang terlihat seperti seseorang yang sedang berjalan menuju masa lalu yang selama ini berusaha ia hindari.

Tangisan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.

Ratih memejamkan mata. Lalu berbisik, "Itu suara perempuan."

Tidak ada yang membantah. Karena semua mendengarnya. Bahkan Sena.

Namun berbeda dengan yang lain, Sena justru menatap dinding-dinding lorong. Mengamati. Mencari sesuatu.

"Ada apa?" tanya Arkana.

Sena menunjuk batu-batu tua di dekat pintu. "Lihat."

Arkana mendekat. Barulah ia menyadari bahwa dinding lorong dipenuhi tulisan kecil.

Bukan ukiran.

Bukan simbol.

Melainkan nama. Ratusan nama.

Sebagian sudah memudar. Sebagian hampir hilang. Sebagian lain masih bisa dibaca jelas.

Nama orang.

Lihat selengkapnya