Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #14

Dokumen Larasati

Ratih menutup mulutnya. Tirta memejamkan mata. Sementara Arkana merasa jantungnya berdetak begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri.

Perlahan ia membuka map tersebut. Halaman pertama berisi foto-foto.

Lorong bawah tanah.

Pipa-pipa raksasa.

Sketsa mekanisme rumah.

Catatan tangan. Perhitungan. Panah-panah merah.

Ibunya sedang menyelidiki rumah ini. Jauh sebelum menghilang.

Halaman berikutnya membuat napas Arkana tertahan.

Sebuah simbol bunga kamboja digambar berulang-ulang.

Di bawahnya tertulis:

Ruang Inti bukan tempat penyimpanan.

Halaman berikutnya.

Ayah tidak membangun Rumah Kamboja.

Lalu halaman berikutnya lagi.

Tulisan menjadi semakin tergesa.

Semakin tidak rapi.

Seolah ditulis oleh seseorang yang mulai ketakutan.

Ada sesuatu yang disembunyikan Hendrik.

Baskara juga mengetahuinya.

Mereka semua menjaga rahasia yang sama.

Arkana membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Halaman sesudahnya juga kosong.

Namun pada lembar paling belakang terdapat tulisan yang ditekan sangat kuat hingga hampir merobek kertas.

Tulisan Larasati.

Tulisan terakhir.

Jika aku benar...

maka bukan Ayah yang paling berbahaya di rumah ini.

Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berbicara. Bahkan suara detak logam terasa menjauh.

Arkana membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Dan semakin ia membacanya, semakin besar rasa dingin yang tumbuh di dalam dadanya.

Karena jika bukan Baskara...

Lalu siapa?

Atau apa?

Saat itulah halaman paling belakang terlipat sedikit.

Sena melihatnya lebih dulu. "Ada sesuatu."

Arkana membalik lipatan itu. Sebuah catatan pendek tersembunyi di sana.

Hanya satu kalimat.

Satu.

Kalimat.

Tulisan Larasati tampak gemetar.

Jangan biarkan mereka membuka Ruang Inti.

Sunyi.

Lihat selengkapnya