Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Perempuan itu berdiri di ujung lorong seperti bagian dari kegelapan yang perlahan diberi bentuk.
Lampu-lampu tua yang menyala berurutan menciptakan jalur cahaya kuning redup menuju sosoknya. Cahaya itu tidak cukup terang untuk memperlihatkan wajahnya dengan jelas.
Namun cukup.
Cukup untuk membuat jantung Arkana berhenti berdetak sesaat.
"Ibu..." Suara itu keluar begitu saja.
Tanpa berpikir.
Tanpa logika.
Tanpa pertahanan.
Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang untuk melupakan wajah seseorang. Namun tubuh manusia menyimpan ingatan dengan cara yang aneh.
Cara kepala sedikit miring. Cara bahu jatuh. Cara seseorang berdiri ketika menunggu.
Semua itu tidak pernah benar-benar hilang.
Dan perempuan di ujung lorong memiliki semuanya.
Ratih mulai menangis. Tangannya gemetar hebat. "Itu Larasati..."
Tirta tampak seperti baru saja dipukul benda keras. Wajahnya pucat. Matanya tidak berkedip.
Sementara Sena tetap diam. Namun Arkana melihat rahangnya menegang.
Larasati tidak bergerak.
Hanya berdiri.
Menunggu.
Tang.
Tang.
Tang.
Detak mekanis rumah kembali terdengar. Kali ini lebih lambat. Lebih dalam.
Seperti denyut jantung.
Arkana melangkah maju.
"Arkana." Suara Sena langsung menghentikannya. "Jangan terlalu dekat."
"Itu ibuku."
"Kita belum tahu."
Arkana tidak menjawab. Karena sebagian dirinya tahu Sena benar. Namun sebagian lain sudah terlalu lama merindukan jawaban. Dan kerinduan sering kali lebih kuat daripada kewarasan.
Ia melangkah lagi.
Lorong terasa semakin dingin. Semakin sunyi.
Anehnya, semakin dekat ia mendekat, semakin kuat aroma melati memenuhi udara.
Tubuh Arkana membeku. Aroma itu. Ia mengenalnya. Bukan karena ingatan. Melainkan karena tubuhnya mengenalinya lebih dulu.
Melati.
Sabun mandi ibunya. Minyak rambut ibunya. Bantal tempat ia pernah tidur saat kecil.
Semua bercampur menjadi satu.
Arkana menutup mata sesaat.
Dan tiba-tiba...
ia kembali berusia enam tahun.